Jumat, 18 November 2011 0 komentar

Naskah Lomba Artikel Politik Kementerian Hukum dan HAM 2011


Bullying: Selubung yang Harus Disingkap
(Antara Pendidikan, Pemerintah dan Hak Asasi Manusia)
Oleh: Carolus Budhi Prasetyo
Dilema Bullying dalam Pendidikan Indonesia
Akhir- akhir ini, bullying kerap kali terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Bullying dalam dunia pendidikan Indonesia tidak hanya dilakukan oleh sesama peserta didik, namun juga meluas sampai ke pemerintah. Kekerasan yang terjadi dilakukan secara langsung maupun tidak langsung dan telah merenggut hak atas pendidikan. Peserta didik ditindas dan diintimidasi  dalam Masa Orientasasi Peserta Didik (MOPD) oleh senior dan kebiasaan turun- temurun yang tidak memiliki maksud memberikan wawasan tentang sekolah. Tawuran antar pelajar sekolah menengah yang akhir- akhir ini kembali hangat telah mencoreng dunia pendidikan.
Keputusan drop out (selanjutnya disingkat DO) maupun tidak naik kelas diputuskan oleh sekolah secara tidak adil. Dasar keputusan sekolah adalah peraturan bersama. Padahal, sekolah terkesan hanya  menjaga gengsi, eksistensi dan melindungi nama baik sekolah tanpa memerhatikan hak atas pendidikan siswa . Pelanggaran asusila yang dilakukan pendidik merusak martabat peserta didik yang telah dilecehkan. Dampak psikis yang ada membuat korban menjadi trauma, tidak mau pergi ke sekolah dan hilang hak atas pendidikannya.
Pemerintah pun ikut ambil peran melakukan bullying secara tidak langsung  dengan melakukan penyetaraan standar pendidikan nasional dengan melaksanakan Ujian Nasional (selanjutnya disingkat UN) dan kurikulum yang membebani peserta didik. Presentase kelulusan menurun karena penetapan UN sebagai syarat kelulusan. Terjadi manipulasi dan kecurangan dari pengambilan naskah soal sampai pemeriksaan. Peserta didik pun terbebani secara psikis dan jiwa karena harus mengejar target UN yang tidak merata. Pengetahuan tidak lagi bernilai penting melainkan mengejar nilai dalam ijazah, dan tak bisa dipungkiri apakah itu berasal dari intelektual atau kecurangan. Generasi penerus bangsa yang memiliki potensi tinggi dan berintelektual  memilih mengakhiri hidupnya karena dinyatakan tidak lulus UN. Kurikulum pun membebani peserta didik karena tidak lagi memanusiakan peserta didik. Bertitik-tolak dari problematika dan fenomena bullying dalam dunia pendidikan Indonesia inilah yang menunjukkan secara jelas kemana tulisan ini ingin berangkat.
Menelusuri Makna Bullying, Pendidikan, dan Hak Asasi Manusia (HAM)
Bullying berasal dari kata bully, yang dalam bahasa Inggris kb. (j.- lies) penggertak, orang yang mengganggu orang lemah, -kkt (bullied) menggertak, mengganggu (Echols dan Hassan, 1992:87). Kata bullying sulit dicari padanan kata yang sesuai dalam bahasa Indonesia. Beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, bullying dapat diartikan sebagai suatu tindakan untuk menyakiti orang lain yang dilakukan oleh pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah secara berulang- ulang, sehingga korban merasa tertekan.
Apabila kita berbicara mengenai pendidikan, kita  sadar bahwa pendidikan itu ada karena hak asasi manusia (HAM). Lalu, apa yang dimaksud dengan hak asasi manusia? Dengan paham ini dimaksud hak- hak yang dimiliki manusia bukan karena pemberian oleh masyarakat, yang bukan berdasarkan hukum positif yang berlaku, melainkan martabatnya sebagai manusia.
Hak asasi manusia tidak dapat dinyatakan tidak berlaku bahkan dihilangkan oleh negara. Apabila tidak mengakui hak- hak yang dimiliki manusia sebagai manusia, itu menunjukkan bahwa dalam negara tersebut martabat manusia belum diakui sepenuhnya. Maka dari itu, hak asasi manusia bersifat universal dan absolut.         Menurut sifat dan arahnya masing- masing, hak- hak asasi biasasnya dibagi dalam empat kelompok yang dapat dihubungkan dengan salah satu aliran ideologis.Empat kelompok itu ialah hak asasi negatif atau Liberal, hak asasi aktif atau Demokratis, hak asasi positif, dan hak asasi sosial. Hak asasi manusia dalam hubungannya dengan pelayanan negara sangat penting dihubungkan dengan hak asasi positif. Hak asasi positif (hak yang menuntut prestasi dan pelayanan negara) dapat ditampung dalam suatu kerangka yang mengoperasionalisasikan tuntutan- tuntutan martabat manusia dalam dua bentuk: sebagai  hak hukum atau sebagai kewajiban politik. Hak asasi atas pendidikan lantas berarti kewajiban (politik) negara untuk mengusahakan segala daya upaya untuk menjamin sarana yang memadai bagi segenap anggota masyarakat.
Pendidikan, menurut Prof. Dr. N. Driyarkara, SJ dalam buku Karya Lengkap Driyarkara, secara filosofis adalah hidup bersama dalam kesatuan tri- tunggal bapak- ibu- anak, di mana terjadi pemanusiaan anak, dengan mana dia berproses untuk akhirnya memanusia sendiri sebagai purnawan. Pemanusiaan yang dimaksud adalah proses. Selain itu terdapat rumusan bahwa pendidikan berarti pemasukan anak ke dalam alam budaya, dan terjadinya pelaksanaan nilai. Pelaksanaan di sini adalah perjumpaan antara aktivitas pendidik dan aktivitas anak didik.
Hubungan Pendidikan dengan  Hak dan Kewajiban
Pendidikan memiliki model humanisasi dan dehumanisasi. Dehumanisasi adalah bentuk ungkapan nyata dari proses alienasi dan dominasi. Pendidikan ini menjalankan praktik- praktik yag digunakan orang untuk ‘menjinakkan’ kesadaran manusia, mentransformasikannya ke dalam sebuah wadah kosong. Sedangkan, dalam pendidikan yang humanis, ketika kita sudah menindaklanjuti rasa keingintahuan kita sebagai peneliti dan penyelidik, dan ketika sudah berhasil mengakses ilmu pengetahuan, kita otomatis mengetahui dengan pasti kapasitas kita untuk dapat mengenali atau menciptakan ilmu pengetahuan baru.
Seperti penjelasan bab sebelumnya, hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada manusia karena martabat sebagai manusia. Hak atas pendidikan tercantum dan dijamin oleh dunia internasional dan diterima oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa- Bangsa pada tanggal 10 Desember 1948. Dalam Pasal 26 ayat 1 dan 2 menyatakan bahwa setiap orang berhak atas pendidikan, Pendidikan dasar harus bersifat wajib dan menjadi tanggung jawab negara. Pendidikan harus diarahkan kepada pengembangan diri sehingga terjamin kebebasannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Pendidikan menjadi sarana manusia untuk berekpresi dan mengungkapkan pendapat. Hak asasi tidak dapat berdiri sendiri maka hak atas pendidikan dapat ditunjang oleh Pasal I dan 2 yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki kebebasan dan kemerdekaan tanpa adanya diskriminasi.
Pendidikan pada sekolah lanjutan ialah membantu manusia muda dalam menyelami dunianya dan dengan demikian membantu dalam menjadi manusia. Dalil X, naskah Capita Selecta Filsafat Pendidikan, oleh Prof. Dr. N. Driyarkara, SJ menjelaskan bahwa manusia muda itu manusia yang masih harus menjadi manusia. Maka pertumbuhan yang berlangsung harus dibimbing agar memenuhi aspek kesusilaan sehingga disebut mendidik. Memang, sudah menjadi hak dan kewajiban bapak- ibu untuk mendidik, namun orang tua berhak mempercayakan pendidikan terhadap negara, dan negara menanggapi dengan pelaksanaan pendidikan dengan struktur yang jelas.
Bullying, Kekerasan yang Nyata dan Terselubung dalam Pendidikan Indonesia
Bullying dalam pelaksanaannya mempunyai motivasi yang kuat. Kekerasan dilakukan untuk mengintimidasi hak yang dimiliki korban bahkan melecehkan martabat korban sebagai manusia. Praktek bullying dalam dunia pendidikan Indonesia mencakup hal yang  luas. Mencakup hal yang luas diartikan bahwa bullying dilakukan dalam berbagai segi, pelaku yang beragam, dan dampak yang luas walau intinya merenggut hak atas pendidikan.
Pemerintah sebagai badan atau lembaga yang mengatur kehidupan masyarakat turut melakukan bullying dengan berbagai kebijakannya. Pelaksanaan UN dimaksudkan pemerintah untuk pemerataan standar pendidikan dalam skala nasional. Pemerataan standar pendidikan yang dimaksud digunakan untuk mencari perbandingan dengan negara lain dari segi ‘nilai eksak’ bukan dari nilai pengetahuan yang dapat diambil. Dalam UN dapat terjadi pemutarbalikan fakta, siswa yang baik secara akademik dapat tidak lulus sedangkan siswa yang kurang dalam akademik dapat lulus dengan mudah. Ketidaklulusan menyebabkan peniadaan hak atas pendidikan siswa. Ketidaklulusan membayang- banyangi masa depan pendidikan siswa,  begitu juga dalam persiapan UN, sekolah menekan siswa- siswi untuk mencapai target materi maupun kelulusan.
Kurikulum yang ditetapkan pemerintah membebani peserta didik dan proses pembangunan pengetahuan tidak berjalan. Inilah yang dimaksud mengintimidasi hak atas pendidikan yaitu, peserta didik tidak dapat mengembangkan pengetahuannya. Pengadaan buku ajar baik di sekolah negeri maupun swasta menjadi salah satu aspek penting dalam pengajaran yang mendukung pendidikan. Harga yang ditetapkan seharusnya murah namun tetap berkualitas tinggi.
Bullying juga dilakukan oleh sekolah, sebagai pihak pengontrol sosial peserta didik. Keputusan drop out maupun tinggal kelas yang dijatuhkan sekolah dapat dilihat kurang adil karena hak seorang siswa dikurangi. Paradigma yang melekat bagi siswa DO maupun tinggal kelas adalah siswa yang bodoh, nakal, dan memalukan. Sanksi negatif inilah yang menjadi beban psikis siswa DO dan membuatnya stress, trauma bahkan tidak mau melanjutkan sekolah. Bila disimak ke belakang banyak terjadi kasus DO karena tawuran antar pelajar.
Tawuran yang terjadi di DKI Jakarta ini dilihat oleh sekolah sebagai aib, merusak gengsi, integritas, dan citra. Memang benar, sebagai siswa harus menjaga nama baik instansi pendidikan tempat dia menuntut ilmu. Namun, sekolah seharusnya lebih bijak dalam memberikan keputusan. Tawuran terjadi karena doktrinisasi senior dan juga berangkat dari solidaritas sebagai sesama siswa. Tawuran dapat terjadi karena pemalakan maupun perampasan siswa sekolah lain yang mungkin bila ditelusuri berasal dari faktor keluarga tidak harmonis, ekonomi,dan lingkungan sosial. Bila sekolah men- drop out siswanya maka konflik tidak akan pernah selesai. Seharusnya sekolah memberikan pendidikan sosial dengan menanamkan moral dan pendidikan kewarganegaraan yang baik dan fungsi bimbingan konseling sekolah dijalankan dengan baik.
Pendidikan yang Memanusiakan Manusia
Pada akhir bab ini, saya ingin memberikan opini bagi pendidikan Indonesia. Pendidikan Indonesia harus melakukan refleksi. Refleksi dilakukan dengan melihat ke masa lalu pendidikan di Indonesia, refleksi tidak hanya melihat ke masa lalu namun refleksi yang baik adalah dapat memberikan buah- buah perubahan yang lebih baik di kemudian hari. Buah refleksi itu diwujudkan dalam perbuatan konkret. Semua aspek pendidikan yaitu, pemerintah sebagai pengatur kehidupan negara, sekolah sebagai instansi yang dipercaya oleh orang tua dalam mendidik anaknya, dan juga peserta didik sebagai generasi penerus bangsa yang dididik untuk berkembang. Bila semua aspek berefleksi maka tidak akan ada bullying dalam sistem pendidikan  Indonesia, dan pendidikan akan berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan pendidikan sendiri yaitu memanusiakan manusia.





Daftar Pustaka

Magnis- Suseno, Franz. (1986). Etika Poltik. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Freire, Paulo. (1999). Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudiyantono. REäD (Research, Education and Dialogue) bekerja sama dengan Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Nickel, James W. (1996). Hak Asasi Manusia: Refleksi Filosofis atas Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia terj. Titis Eddy Arini. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia. (2011). Perlakuan Bullying dan Konsep Diri (on- line) http://repository.upi.edu/operator/upload/s_psi_0606087_chapter2.pdf. (diunduh 16 November 2011).

Sudiarjo, A, dkk. (2006). Karya Lengkap Driyarkara: Esai- Esai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya. PT Gramedia Pustaka Utama atas kerja sama: PT Kompas Media Nusantara, Penerbit- Percetakan Kanisius, Ordo Sarikat Jesus Provinsi Indonesia: Jakarta.







      
Jumat, 04 November 2011 0 komentar

Gonzaga Education Fair 2011


Gonzaga Education Fair 2011

Demi memberikan yang terbaik bagi pendidikan Indonesia, SMA Kolese Gonzaga, Jakarta mengadakan Gonzaga Education Fair 2011, pada hari Sabtu- Minggu, 29/10- 30/ 10.

Pembukaan Gonzaga Education Fair 2011 diadakan di Sport Hall. Kata sambutan dibawakan oleh Bp. R. Himawan Santanu, selaku Ketua Panitia Gonzaga Education Fair 2011, Pastor Leonardus E. B. Winandoko, SJ, M. Ed, Direktur SMA Kolese Gonzaga dan Drs. H. Suharyanto, M. M, Kepala Sudin Jakarta Selatan. Siswa- siswi Kolese Gonzaga mengisi acara pembukaan Gonzaga Education Fair 2011 dengan menampilkan tari- tarian tradisional sebagai penyambutan, musikalisasi puisi. Seminaris dari Seminari Wacana Bhakti pun berpartisipasi dengan menampilkan drama musikal bertajuk kepemimpinan dan kebudayaan denganjudul “ Cerdas dan Kurdas ( Kurang Cerdas) Season II”.

Pameran pendidikan ini dihadiri oleh perguruan tinggi negeri ( PTN), perguruan tinggi swasta, institusi pendidikan dan ordo religious. Perwakilan dari perguruan- perguruan tinggi tersebut menempati stan- stan di setiap ruang kelas. Para siswa- siswi beserta orang tua mengunjungi setiap stan untuk mencari informasi selengkap- lengkapnya yang sesuai dengan potensi yang dimiliki. Para siswa- siswi pun dapat melakukan simulasi TOEFL dan SAT utnuk perguruan tinggi.

Pengunjung juga ramai melihat stan dari Sarekat Jesus ( SJ), Ordo Saxerian ( SX), DIosesan Keuskupan Agung Jakarta, Ordo Frater Minorum ( OFM), Suster- Suster St. Carolus Borromeus ( CB), dan Frater Konggregasi SMM.

Diharapkan pameran pendidikan ini menjadi pelopor bagi sekolah lain dalam mengembangkan pemimpin masa depan yang lebih baik sesuai dengan tema Gonzaga Education Fair 2011 yaitu “ Preparing The Future Leaders”.

Carolus Budhi Prasetyo

Minggu, 18 September 2011 0 komentar

Leaflet AIDS NEW II


0 komentar

Leaflet AIDS NEW


Minggu, 04 September 2011 0 komentar

Aku Ada Karena Kita Ada


Aku Ada Karena Kita Ada
Oleh: Carolus Budhi Prasetyo, I/ 7

            Dalam beberapa surat tokoh Gereja masa lampau, kitab- kitab, maupun dokumen- dokumen tokoh- tokoh agama Kristen dikatakan bahwa orang Kristen berada di negerinya sendiri namun semata- mata sebagai peziarah atau musafir. Bukan seperti orang Italia dan Polandia yang merindukan negerinya yang dulu, kita bukan berada di pengasingan. Kita sebagai orang Kristen percaya bahwa kita akan lebih kerasan berada dalam Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukan suatu tempat yang terpencil di alam semesta yang dimana orang akan berpulang. Tapi, Kerajaan Allah adalah kesatuan umat manusia dalam Kristus. Hal ini didukung dalam Surat kepada Jemaat Kolose yang menyatakan Kristus sebagai kepala tubuh,  dsb ( Kol 1: 17- 20). Seluruh ciptaan dihimpun dalam satu kesatuan dalam Kristus, yang kepulangan kita nanti menuju keseluruhan kemanusiaan.
            Dewasa ini, manusia dikenal dari kewarganegaraannya. Rasa nasionalisme dan patriotisme itu tidak menunjukkan sikap inklusif dan eksklusif melainkan sifat ketakutan akan permusuhan dengan negara lain. Dalam agama Kristen sikap seperti itu menunjukkan jatidiri yang kecil. Dalam kesatuan umat Kristen dalam Kristus dapat membuat pribadi berkembang dan menjadi diri sendiri. Tuhan adalah Dia yang di dalam diri- Nya orang tidak merasa gamang karena Tuhan hadir dimana- mana dan selalu dalam kekinian. Kerinduan orang Kristen adalah rumah dimana tak seorang pun ditolak, kecuali mereka sendiri tidak mau masuk, Konsili Vatikan Kedua mengatakan bahwa Gereja merupakan sakramen. Herbert McCabe OP mengatakan baptis adalah sakramen keanggotaan segenap manusia. Kita diarahkan mengatasi batas- batas identitas kita yang sempit. Gereja harus menjadi tanda kekerabatan manusia. Sebabnya, orang Kristen perdana menyebut sesamanya sebagai “saudara” atau “saudari”.
            Perumpamaan dalam Lukas 12: 16- 20 menceritakan sifat keakuaan dan egoisme. Tuhan mau menyadarkan manusia agar keluar dari kecenderungan sikap egois dan keluar meuju sikap kekitaan. Sama halnya ketika dihadapkan pada kenyataan tentang Orang Samaria yang Baik, yang menjumpai seseorang yang tergeletak di jalan, yang telah dirampok oleh para penyamun dan dibiarkan saja oleh imam dan orang Levi. Ahli Taurat itu mengajukan pertanyaan yang terpusat pada dirinya sendiri,tetapi Yesus menjawab dengan cerita yang berusaha mengguncang ahli Taurat itu keluar dari pusat dunianya. Itulah kerendahan hati yang ingin diajarkan oleh Yesus: keluar dari pemusatan diri sendiri. Inilah yang yang kurang disukai orang Romawi dan Yunani yang menganggap seperti diinjak- injak. Kekristenan membalikkan pandangan dunia akan hal itu, bahwa kerendahan hati merupakan keutamaan yang khas Kristen, sedang kebanggaan diri (kesombongan) sebaliknya merupakan cacat, kelemahan, yang terbesar. Kerendahan hati berarti mempunyai penghargaan yang benar pada diri sendiri, bahkan Jean Louis Bruges OP menyebutkannya sebagai harga diri Kristen.
            Hakikat kebudayaan Afrika dapat mengubah pemikiran diri kita tentang manusia sendiri. Namun dapat diikhtiarkan oleh John Mbiti dalam kata- katanya, “ Aku ada karena kita ada”,- seorang pribadi menjadi pribadi karena masyarakat. Sebuah jati diri bukan milik pribadi yang didapat dengan usaha sendiri dan bukan memikirkan tentang diriku sendiri. Jati diri diberikan dalam keanggotaan dalam komunitas, keluarga, klan, suku, ataupun bangsa. Pribadi tersebut didapat dari integrasi dari kelompok maupun peran yang dijalani. Menurut Antonius Agung, seorang bapa padang gurn yang tinggal di Afrika dan menjadi salah seorang leluhur spiritual Barat, “ Hidup dan mati adalah bersama tetangga kita”, bahwa dalam segala hal akan berakhir pada relasional. Gagasan ini merujuk pada misteri Tritunggal, Satu Allah Tiga Pribadi, hubungan yang murni, yang membantu Barat mencapai pemahaman baru tentang apa artinya menjadi pribadi manusia. Namun gagasan yang diambil adalah relasi, pemberian dan penerimaan keadaan.
            Apabila seseorang berbicara tentang panggilan, baik memilih imamat maupun menikah, atau apa saja, bukan hanya menambah keanggotaan. Jika itu suatu panggilan, di sanalah tempat orang mulai menaruh semua cita- rasa jatidirinya bersama- sam , suatu rumah dimana seseorang mengusahakan penyatuan, perpaduan, integritas. Dalam ordo ada sikap yang dimiliki yaitu bahwa menerima diri sebagai seorang di antara saudara- saudara.  Dengan mengurbankan prioritas demi keputusan yang ditentukan ordo. Jika orang memandang keanggotaan dalam Ordo hanya sebagai bagian dari pengabdian, berarti ia tidak menyerahkan diri kepada persaudaraan ordo. Ordo adalah suatu komunitas dimaana aku dapat berkembang dan bahagia , karena telah menemukan diriku sebagai salah salah satu dari saudara- saudaraku.
            Gereja sepatutnya menjadi tempat terlaksananya pembicaran- dalam paroki, keluarga, maupun lingkungan, dalam komunitas- yang membantu orang memahami “ aku” karena telah memahami “ kita” terlebih dahulu. Komunitas Kristen haruslah menjadi tempat dimana kita belajar mengatakan “ aku” dengan penuh keyakinan. Hal ini menegaskan pemimpin Kristen agar berhati- hati dnegan pembicaraan mereka tentang manusia daripada bicara langsung  pada tentang kamu muda, dll.  Karena yang terpenting mereka ingin suara mereka didengar sebagai mitra bicara. Gereja haruslah menjadi komunitas dimana orang senang menjadi orang biasa, menjadi saudara satu sama lain. Gereja pun harus menjadi komunitas dimana keindahan orang biasa disingkapkan, karen adi dalam Tuhan kita, dengan berpusat dimana- mana dan yang selalu hadir kini, tak seorangpun merasa gamang.

Jawaban Reflektif:
1.         3 hal penting yang saya dapatkan adalah bahwa sebagai orang Kristen, Kerajaan Allah adalah tempat             berpulangnya   umat yang merupakan keseluruhan umat manusia. Kedua, kerendah hatian sangat diperlukan             untuk   mengeluarkan diri dari pemusatan diri sendiri dan lebih mengutamakan aspek kita. Ketiga, dengan             adanya relasional maka terbentuklah komunitas. Komunitas ini yang membentuk jati diri kita             sendirimelalui pengakuan sebagai seorangdiantara saudara- saudari.
2.         Relevansinya  bahwa keyakinan diri sebagai peziarah di dunia dan kesatuaan seluruh umat sebagai tujuan             dengan Kristus sebagai kepala adalah di seminari walau saya sudah memahami seluk- beluk smeinari saya             hidup sebagai orang asing yang selalu mengikuti peraturan yang ada.  Segala keteraturan dalam seminari ini             mengarahkan pada kesatuan anggota komunitas.  Saya berusaha menepati jadwal smeinari bukan semata-             mata sebagai rutinitas melainkan keyakinan bahwa saya adalah anggota dari komunitas dan saya seharusnya             bergabung dalam acara bersama yang dikepalai Yesus sendiri.

            Kerendahanhati walau susah dilaksanakan namun saya terus belajar untuk melaksanakannya dalam kehidupan       sehari- hari. Berusaha untuk melakukan kegiatan bersama demi kepentingan komunitas. Kerendahan hati      untuk tidak menonjolkan diri dapat memberikan ruang bagi anggota lain untuk memahami diri saya lebih             dalam.  Saat melakukan kegiatan pun bukan hanya menjalani prioritas diri untuk eksis tapi bersama- sama             menjalankan tujuan dan komitmen bersama demi komunitas yang lebih baik.

            Hidup berkomunitas merupakan pilar hidup Seminari Wacana Bhakti yaitu societas. Saya hidup menjadi diri             sendiri sesuai dengan peran yang saya jalani. Dengan adanya perbedaa, penolakan saya menempatkan diri             sebagai seseorang di antara komunitas. Saya berusaha tidak pandag bulu antar anggota. Saya menjadikan             komunitas seminari sebagai tempat yang bahagia diamana saya dapat mengembangkan diri saya.


            
Sabtu, 03 September 2011 0 komentar

Be Creative ! ! !



0 komentar

Handel - Messiah - Hallelujah Chorus

0 komentar

Handel - Messiah - Hallelujah Chorus

Jumat, 02 September 2011 0 komentar

Leaflet of HIV/ AIDS II


0 komentar

Leaflet of HIV/ AIDS I


Rabu, 31 Agustus 2011 0 komentar

A Whole New World

Selasa, 30 Agustus 2011 0 komentar

Hanya Kau

Hanya Kau
Oleh: Carolus Budhi Prasetyo

Sang Pencipta pun tersenyum
Kala melihat ciptaan- Nya yang cantik
Itu Kau, gadis manis nan menawan

Cintamu memberiku hidup
Saat Sang Surya menerangi dunia
Aku pun bangkit ‘tuk memuji- Nya

DI sekolah, pandanganku terpaku padamu
Seperti malaikat nan cantik
Sayapmu yang lebar dan putih
Anggunnya dirimu bagai angsa
Kulitmu yang putih langsat
Sangat kontras dengan pesonamu
Aku pun terhenyak melihat belahan bibirmu
Belahan bibir yang memerah menyempurnakan
Indahnya dirimu

Saat bibir itu terbuka
Mengeluarkan kata dan sabda bahagia
Aku pun tersadar bahwa hanya engkau
Makhluk terindah di dunia ini
Saat kau tanya tentang diriku
Aku pun tahu kau baik dan perhatian

Saat aku tatap dalam matamu
Kau pun malu
Aku sadar kau malu ditatap
Seakan kau adalah malaikat


Tanpa kau sadari
Saat aku menatap matamu
Aku melihat tawa dan kebahagiaan
Sesuatu yang tak kan ‘kudapat dari gadis lain

Cintamu memberiku lidah dan air mata
Para kaum adam pun iri
Saat aku mendekatimu
Mendekapmu kar’na rinduku
Menyayangimu bagai kekasih

Setiap kali aku mendegar kicauan burung
Dan suara air yang mengalir
Aku merasa menderita karena kesendirianku

Aku pun sadar bahwa engkau belum tentu peduli
Peduli padaku
Mungkin saat aku tanya namamu
Kau tidak akan peduli padaku

. . . "Akankah kau mendengar bisik sayap- sayapku dalam keheningan malam?" . . .(Kahlil Gibran, penyair termahsyur)
1 komentar

Me and 24# WB Family


0 komentar

Tubuhku Sehat, Jiwaku Kuat

Tubuhku sehat, jiwaku kuat
Dalam 4 pilar seminari terdapat hal yang mendukung
Sanitas adalah jawabannya
'Tuk wujudkan hal itu

Menjalani sanitas dengan,
               menjaga,
                          merawat,
                                     memelihara lingkungan hidup. . .

Thet. . . Thet. . .
Bel opera pun dibunyikan
Saatnya membersihkan lingkungan
Lihatlah sekelilingmu
Apakah sudah bersih semua

Hilangkan kantukmu
Mulailah bekerja
Singsingkan lenganmu
Mari jaga kebersihan lingkungan kita

Duk. . . dak. . . tak . . . GOAL
Ayo kita berolah raga
Mengolah diri kuatkan diri
Gerakan sleuruh anggota tubuhmu

Keluarkan keringat
Rasakan keceriaan
Saat bermain bersama
Sebagai satu keluarga

Akhirnya jiwa kita kuat
Jiwa kita menjadi tentram
Dalam hidup sanctitas, scientia dansocietas
Dapat dijalankan dengan baik

Mendengar,
               Merasakan,
                              Menjawab panggilan Tuhan

Semua nyamankan
Jika tubuhmu sehat
Jiwamu kuat
Karena kita bisa menjawab dengan lantang
" Aku siap Tuhan, menjawab panggilan- Mu"

Senin, 29 Agustus 2011 0 komentar

Name Tag MOPD Kolese Gonzaga 25 Divisi IV ( Seminaris) by me


0 komentar

Ekspo Panggilan Seminari Wacana Bhakti di Paroki Kalvari, Lubang Buaya












1 komentar

Kenangan Temu Seminaris 2011
















0 komentar

How Far You Can Climb


Sabtu, 27 Agustus 2011 0 komentar

17- an Seminari Menengah Wacana Bhakti


17- an Seminari Menengah Wacana Bhakti

Dari pengalaman kemerdekaan bangsa ini,“ Setiap siswa- siswi Kolese Gonzaga diharapkan memiliki semangat magis dalam segala tindakan yang dilakukan”.

Itulah harapan yang disampaikan dalam amanat upacara perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke- 66 komunitas Seminari Wacana Bhakti- Kolese Gonzaga oleh Pastor Thomas Salimun Sarjumunarsa, SJ selaku Pastor Rektor Seminari Wacana Bhakti, Jakarta. Pastor Sarju yang juga merupakan dosen di STF Driyarkara ini menekankan agar setiap siswa- siswi kolese memiliki semangat lebih dalam bertindak terutama dalam hal studi. Perayaan 17- an ini kemudian dilanjutkan dengan berbagai macam perlombaan, mulai dari lomba makan kerupuk, menangkap belut, balap sarung hingga panjat pinang. Kegembiraan ini dirayakan bersama oleh siswa- siswi, guru, dan karyawan.

Sore harinya, komunitas Seminari Wacana Bhakti juga mengadakan acara perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke- 66. Perayaan ini diawali dengan lari pagi bersama ( Rabu, 27/ 8), lomba penulisan esai ( Jumat, 12/8), tarik tambang, pukul air, minum air dengan sedotan yang dilubangi, estafet kelereng dan futsal sarung. Perlombaan dilangsungkan hingga pukul 17.00 dan pada pukul 18.00 dilanjutkan dengan acara pembagian hadiah kepada para pemenang dan diakhiri dengan acara makan malam bersama.

“ Dengan adanya pengalaman kemerdekaan bangsa ini, setiap seminaris hendaknya mampu menjadi seminaris yang bertanggung jawab, berani, semangat, dan terutama dapat menjadi teladan di lingkungan hidupnya” , begitu penggalan kalimat dalam esai berjudul Seminaris Berjiwa ’45” karya Bonfilio Rendra sebagai pemenang lomba penulisan esai yang bertema “ Menjadi Seminaris yang Nasionalis”.

Carolus Budhi P.
1 komentar

Pujaan Hati


Pujaan Hati


Kau cantik nan menawan
Keindahanmu tak ternilai
Pesonamu begitu terpancar
Keelokan dirimu laksana burung merak
Memamerkan keanggunan dirinya

Bukan s’perti itik buruk rupa
Kau adalah angsa putih, indah nan menawan
Rambutmu yang hitam pun terurai
Mahkota kecantikanmu yang indah

Matamu cakrawala dunia
Saat aku tatap matamu maka aku pun tahu
Kau adalah makhluk terindah di kehidupanku
Lihatlah bibir mungil yang memerah itu
Segala sabda dan kata bahagia terucap
Senyumanmu tak terbayar sudah
Kala kau tersenyum semua makhluk pun merasa damai
Lebih sempurna lagi pesona hawamu itu
Tak kala kau tersenyum
Lesung pipi menghias pipimu yang merona

Kulit sehalus kain sutra
Laksana putihnya susu
Begitu indah, begitu alami

Hatimu itu begitu menyentuhku
Ingin rasanya ‘kumiliki hatimu
‘Ku tak bermaksud mengambil kebebasanmu
Biarlah kau terbang tinggi
Melayang jauh di atas awan
Menghiasi birunya langit
Biarkanlah dirimu menerangi hidupku
Dan memberiku terang cah’ya waktuku gelap
Aku ingin pesonamu terpancar
Biarlah kau mekar laksana bunga mawar yang indah

Kaulah mutiara
‘Kan kujaga dirimu
Biarlah semua kaum adam
Dibuat iri oleh kita berdua
Hanya kau gadisku
Biarlah kau bersikap apa adanya
Biarlah kauu memilih rasa
Dengarkanlah suara hatimu
Biarlah kepribadianmu terpancar
Janganlah kau berubah sejauh itu
Biarlah kekuranganmu ‘ku lengkapi
Dan kelebihanmu terpancar

Hanyalah kau gadis pujaan hatiku. . .

 
;