Kamis, 31 Maret 2011

Motivasi dan Kehidupan Panggilan Seminaris

Motivasi dan Kehidupan Panggilan Seminaris
Oleh : Carolus Budhi Prasetyo KPP/08
I.Pendahuluan
            “MOTIVASI DAN KEHIDUPAN PANGGILAN SEMINARIS”  adalah  tema karangan yang saya pilih untuk tugas karangan Bahasa Indonesia .Tema ini sangat relevan dengan kehidupan para remaja, para seminaris  dan mereka yang terpanggil.Di dunia ini terdapat dua jalan kehidupan yang harus dipilih yaitu berkeluarga dan selibat untuk Tuhan ,baik melalui jalan imamat atau awam.Saya memilih tema ini karena saya ingin menggali lebih dalam tentang kehidupan panggilan yang dijalani para seminaris , sebuah kehidupan yang pada zaman ini tidak lagi diminati oleh para remaja . Jalan kehidupan yang dipilih oleh sebagian kecil remaja ini sangatlah unik dan menantang.Sebagai seminaris saya mencoba memahami dan berefleksi tentang jalan panggilan ini melalui kegiatan – kegiatan rohani.
Zaman ini yang penuh dengan kemewahan dunia,serba instan,globalisasi,pudarnya jati diri seseorang ,adalah sebuah tantangan zaman.Remaja lebih memilih hidup duniawi dengan segala kemanisannya ,teknologi yang memanjakan dan pergaulan yang bebas.Panggilan menjadi Imam berkurang,para remaja menganggap jalan panggilan ini aneh,tidak menarik,dan tidak mewah.Mereka berada dalam keadaan yang serba membingungkan “Apakah saya terpanggil ?” .Namun pertanyaan itu tenggelam seiring dengan berkembangnya pergaulan dan kebebasan.
Berbeda lagi dengan orang tua pada zaman sekarang.Dahulu orang tua sangat memperbolehkan anak menempuh jalan imamat .Mereka telah menjadi seminari kecil bagi anak mereka.Ada rasa bangga bila anaknya menjadi Imam . Kerelaan dan pengorbanan ,mereka berikan untuk Kerajaan Tuhan agar barisan para pelayan Gereja-Nya bertambah.Walau hanya memiliki seorang anak ,mereka tetap mau merelakan anak semata – wayangnya.Sekarang orang tua ,banyak menuntut kepada Gereja,”Bagaimana mungkin Pastor Paroki sedikit sekali?” ,namun mereka tak pernah mau merelakan anaknya .Padahal banyak di antara mereka merupakan aktivis Gereja,donatur bagi seminari dan penggerak aksi panggilan.Orang tua sekarang lebih menghawatirkan usaha – usaha dan perusahaannya ketimbang perkembangan Gereja masa depan .Orang tua memiliki rasa gengsi tinggi ,apabila anaknya tidak berhasil menjadi seperti orang tuanya.
            Baik remaja atau orang tuanya ,mereka beranggapan bahwa “Kenapa harus aku (anakku)  yang terpanggil ,kenapa bukan anak yang lain?” .Mereka tidak berani merelakan anaknya .Remaja berpikir bahwa menjadi pastor ,berarti hidup membosankan.Para remaja berpikir bahwa hidup hanya satu kali dan tak boleh disia – siakan . Mereka hanya bertindak untuk memuaskan keinginannya saja,apalagi banyak yang dunia tawarkan untuk hal ini.
II.Isi
            Seminari Menengah adalah tempat pendidikan bagi para calon imam yang setingkat dengan SMA . Seminari berasal dari kata Seminarium dari bahasa Latin yang terbentuk dari kata dasar “semen”, artinya benih. Maka, Seminari berarti tempat penyemaian benih. Maksudnya, benih panggilan rohani yang ada pada seseorang, disemaikan dengan pendidikan di Seminari. .Salah satunya adalah Seminari Menengah Wacana Bhakti yang berada di Pejaten Barat 10A,Pasar Minggu ,Jakarta Selatan berada dalam Keuskupan Agung Jakarta. 
              Seminari merupakan sebuah komunitas doa hubungan eratnya dengan Tuhan mewajibkan setiap anggotanya untuk memiliki kualitas – kualitas ,seperti keterbukaan ,pengorbanan diri dan cinta kasih .Semuanya ini sangatlah penting bagi pembinaan imamat yang tepat guna (Ratio Fundamentalis Pembinaan Imam [RFTI] no. 191).Para seminaris membina panggilan mereka dalam kegiatan – kegiatan yang tidak dapat tidak harus ada di seminari.
Ekaristi dan adorasi ekaristis yang bersumber pada penghayatan Ekaristi. Ekaristi adalah sumber dan puncak hidup kristiani .Maka Ekaristi-lah sebagai batu penjuru hidup komunitas seminari.Di Seminari Wacana Bhakti para seminaris secara sadar hidup dalam penghayatan Ekaristi seperti ,misa harian ,adorasi,salve,visitasi yang dilakukan secara individual atau bersama ,sehingga seminaris mengikuti jejak Kristus sang Imam Agung .Doa harian merupakan kegiatan rohani yang selalu dilakukan seminari baik sesudah maupun sebelum memulai kegiatan . Kegiatan tersebut dilaksanakan dari pagi sampai malam,seperti Laudes ,Completorium dan doa – doa pribadi .
Para seminaris harus memiliki etika dalam menjalani kehidupan panggilan di seminari.Mereka memiliki sikap keterbukaan ,pengorbanan,kepekaan dan kepedulian bagi sesama. Kegiatan – kegiatan di seminari dilakukan agar para seminaris berkembang dalam panggilan dan terarah pada jalan panggilan imamat.Setiap tahunnya seminari telah menjadwalkan kegiatan tersebut seperti :
·         Rekoleksi
 Para seminaris haruslah memiliki kepekaan dan berkomunitas .Dalam hidup di seminari ,para seminaris haruslah berefleksi atas panggilannya .Rekoleksi ini juga digunakan untuk promosi panggilan ordo – ordo ,sehingga para seminaris dapat melihat corak hidup mereka.Refleksi ini diadakan satu bulan sekali.
·         Retret
Di dalam retret refleksi atas panggilan hidup seminaris diperdalam . Dalam retret para seminaris merefleksikan relasi ,komunitas dan panggilannya.Saat KPP fokus retret yaitu kebetahan dan kerasan para seminaris dalam seminari dan hidup berkomunitas. Saat kelas I retret membahas relasi mereka dalam SMA Kolese Gonzaga ,dapat mengenal diri sendiri ,hidup sebagai 100% seminaris dan 100% remaja.Kelas II seminaris dimantapkan agar memiliki komitmen dalam panggilannya  dan berani mengambil keputusan dalam panggilannya.Serta kelas III lebih menegaskan keputusan panggilan hidupnya ,apakah akan melanjutkan proses pembinaan imamat yang lebih tinggi atau tidak melanjutkan komitmen dalam panggilannya.
·         Ziarah
Dalam kegiatan berziarah ,para seminaris diperkenalkan akan devosi kepada Maria dalam Gereja Katolik.Sekaligus mereka berefleksi akan perjalanan panggilannya.
·         Ekspo Panggilan dan Aksi Panggilan
Seminari hendaknya menyelenggarakan “Aksi Panggilan “untuk membagikan kesaksian panggilannya sebagai seminaris ,mengenal Gereja dan umat setempat ,dan menumbuhkan semangat merasul.Seminaris membagikan kesaksiannya ini terutama kepada remaja dan kaum muda Katolik.Dalam aksi panggilan para seminaris mengambil bagian dalam misa yaitu saat bermain musik dan pertemuan dengan Putera Altar – Puteri Sakristi maupun OMK.
·         Sakramen Rekonsiliasi
Dengan sakramen rekonsiliasi para seminaris membina kembali hubungan dengan Allah yang memanggil .Seminaris dapat bersikap rendah hati dengan mengakui segala kesalahannya , dapat membangun hati nurani yang baik dan membuat persenjataan sendiri melawan godaan zaman.
·         Bimbingan Rohani
Sebuah kesombongan jika seorang seminaris beranggapan bahwa ia bisa menjadi imam dari diri sendirinya (nasehat Paus Paulus VI)..Dengan bantuan orang lain dalam pembinaan ,pendampingan ,dan tuntunan ,seminaris dapat menjadi alat Tuhan ,pancuran Roh Kudus –Nya dalam menumbuh – kembangkan benih panggilan yang ada..

Motivasi atau alasan para seminaris untuk menjalani hidup panggilan beragam ,begitu juga dengan kapan mereka merasa terpanggil.Panggilan adalah misteri.Cara mereka terpanggil beragam . Bagi mereka yang saat kecilnya menjadi anggota Putera Altar ,rata – rata saat diwawancarai mereka mengatakan bahwa saat melihat Romo memakai kasula dan pakainan liturgi terlihat gagah.Romo dapat meminum anggur sesukanya,selalu diperhatikan oleh umat dan kalau di pastoran makanan dari umat selalu banyak.Contohnya,Aditya Brillian Kristanto dari KPP menuturkan bahwa ia merasa tertarik (terpanggil) saat kelas 3 SMP ,ia memiliki keinginan untuk melayani pemuda dan pemudi di tanah misi ,karena para pemuda dan pemudi zaman sekarang memiliki ketergantungan pada hal instan .Ia juga menambahkan ,bahwa gurunya yang memberitahukan tentang Seminari Wacana Bhakti ,orchestra dan kehidupannya.Ia juga berkeinginan menjadi pastor di Vatican selain berkarya di tanah misi.
Berbeda dengan Reinardus Doddy Triatmaja dari kelas II,ia mulai memiliki keinginan menjadi pastor sejak kelas 6 SD.Ia ingin menjadi pastor karena ia ingin melayani Tuhan dan sesama. Ayahnya dulu adalah eks-frater.Ia memilih menjadi imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta .Ia ingin berkarya di Keuskupan asalnya.Ia memiliki keinginan saat menjadi pastor untuk membangun rumah bagi anak – anak yang terlantar.
Kalau saya sendiri mulai tertarik menjadi pastor saat kelas 3 SD ,saat melihat pastor paroki saya yang baik dan perhatian kepada anak – anak.Saat kelas 4 SD ,semenjak menjadi anggota putera altar ,saya semakin dekat dengan pastor dan meihat bahwa mereka bijaksana dan memiliki cara hidup yang baik.Saat bertemu dan sering bermain–main dengan pastor rektor di salah satu seminari tinggi yang merupakan teman orang tua,aku semakin menyadari sendiri panggian.Aku berkeinginan melayani Tuhan dan sesama dengan jalan panggilan imamat,hidup meneladani Yesus sendiri.Aku berkeinginan menjadi pastor dioses atau ordo Serikat Jesus yang menguasai bidang kitab suci dan katekis dan mengembangkan panggilan bagi para remaja.
Tantangan orang yang memiliki panggilan beragam dan sangat menggoda.Jalan menuju  panggilan juga berliku namun sukacita yang ada tidak pernah hilang.Menjadi orang yang terpanggil berarti menerima suatu janji.Dan seperti di dalam Kitab Suci bahwa Tuhan senantiasa pada janji – janji-Nya.
Ketertarikan kepada lawan jenis adalah salah satu kemungkinan yang kita harus telusuri .Panggilan kepada pelayanan Tuhan tidaklah mengubah relasi kita dengan sesama atau lawan jenis.Tidak ada pantangan  - pantangan bagi para seminaris .Mereka harus tetap bergaul dan berkomunikasi baik dengan pria dan wanita.Inilah yang dibutuhkan bagi perkembangan psikologis yang sehat .Pertanyaan bagi mereka yang berada di seminari menengah dan bersekolah di SMA KOLESE  GONZAGA adalah bagaimana pergaulan yang sehat bagi seminaris antara teman laki – laki dan terlebih perempuan  ; sikap – sikap apa yang sebaiknya kita jaga dalam pergaulan di luar.Di sinilah  ditegaskan bahwa para seminaris adalah bukan remaja anti – perempuan.Mereka dididik agar dalam menjalani relasi dengan lawan jenis ,mereka menjadi lebih dewasa.Para seminaris dituntut kesadarannya agar dapat menjalankan pertemanan dengan segala golongan ,kaya,sederhana,suku – suku,etnis ,agama,berbagai warna kulit.Dalam relasi dengan perempuan diharapkan agar dapat berteman dengan semua teman perempuan tanpa memiliki keeksklusifan.         
Ada seorang seminaris yang mengatakan bahwa dia selama di SMA KOLESE GONZAGA   dapat berteman dengan baik.Tidak ada keekskusifan yang dia jalani.Di SMA dia dipandang lebih dewasa daripada teman – temannya.Dengan kedewasaan itu ,ia dapat memberikan solusi yang bijaksana kepada teman – temannya yang mempunyai masalah. Seminaris dipandang lebih bijasana,dewasa dalam berpikiran  dan bertindak ,dan memiliki kepekaan yang tinggi .
Kalau saya ingat – ingat kembali masa dimana  saya belum memasuki seminari  ,saat saya diajarkan berdoa,diajak ke gereja ,semangat melayani sesama merupakan hal – hal yang saya pelajari dari papa dan mama saya.Maka sungguh benarlah bahwa keluarga merupakan “seminari awal” .Keluarga banyak mengambil peranan dalam panggilan saya menuju imamat. Orang tua adalah rektor dan pembimbing rohani saya yang pertama.Lewat mata mereka , saya mengenal cinta ,kurban , lupa diri dan pemberian diri demi kebaikan orang lain terlebih mengenal Allah yang memanggil kita.Lewat bibir mereka,kita tumbuh dalam pengetahuan dan hikmat .Lewat teladan mereka,kita lebih terlatih dan terarah pada imamat .Para seminaris hendaknya menjadikan keluarganya sebagai kekuatan , sumber inspirasi dan serah diri ,dalam apapun keadaannya.
Jangan pernah malu atau menjauh dari keluargamu ,dalam arti bukan membiarkan diri terikat secara material dan psikologis ,melainkan menjadikan keluarga sebagai sumber kekuataan dan semangat dalam menjalani panggilan. Para seminaris dapat berkomunikasi dengan keluarga mereka secara tidak langsung kapan saja.Mereka hanya dapat bertemu sekali dalam sebulan dan boleh pulang ke rumah saat liburan yang telah dijadwalkan. Hubungan antara keluarga dan anak tetaplah terjaga.Para seminaris dapat membicarakan pengalaman mereka selama di seminari .Orang tua tetap menjadi tempat cerita bagi mereka saat mereka mengalami suka dan duka baik dengan komunitas atau teman.Mereka tetap dapat merasakan cinta kasih keluarga mereka.

III.Penutup
           
            Panggilan dapat menjadi tanda khusus bagi cinta kasih yang terungkap dalam sitasi hidup sebagai hamba Tuhan.Pertanyaan tentang apakah itu panggilan ,bukan hanya masalah tentang panggilan itu sendiri ,melainkan akan menjadi suatu definisi yang sangat sulit .Pangilan mengandung pengertian bahwa Tuhan itu benar – benar memanggil dan juga memerlukan suatu tanggapan hidup dan cinta yang diberikan kepada kita pada saat yang penuh rahmat itu.Panggilan membuat kita menentukan suatu keputusan tentang masa depan kita .
Beberapa di antara anggota Gereja akan terpanggil sebagai imam bagi Tuhan Yesus ,karena Gereja membutuhkan orang untuk membagikan misteri penyelamatan.Gereja mendapatklan keberhasilan jika ada orang – orang yang tulus menjawab panggilan Tuhan dengan cara yang penuh kasih dan hati yang murni.
Melalui berbagai cara yang misterius ,Tuhan memanggil remaja – remaja bergabung dalam barisan para imam.Mereka bergabung menjadi seminaris .Dan panggilan itu menjadi begitu indah .”Hal itu terjadi dari pihak Tuhan ,suatu perbuatan ajaib di mata kita “(Mzm 118:23).
Saya dapat menyimpulkan bahwa para seminaris  hidup sebagai 100% remaja dan 100% orang pilihan.Mereka dibimbing dan dikembangkan dalam seminari agar benih panggilan yang ada padanya tetaplah subur.Di seminari ada banyak kegiatan  rohani yang secara khusus dibuat dalam pengembangan panggilan.Motivasi yang telah mereka miliki walau sederhana tetap menjadi pendorong panggilan mereka yang sangat jujur.
Dalam relasi mereka dengan siswa – siswi SMA KOLESE GONZAGA mereka dipandang sebagai teman yang memiliki sosok dewasa,bijaksana dan peka.Ketertarikan kepada lawan jenis bukanlah penghalang,seminaris diminta kesadaran dan kedewasaan mereka dalam menjalani relasi .Keluarga menjadi tempat mereka mencurahkan pengalaman suka maupun duka di seminari.Keluarga yang dari awal menjadi seminari awal merupakan sumber doa dan semangat bagi para seminaris.
Harapan saya adalah agar para seminari sehati – sejiwa memelihara panggilan mereka dengan cara menjalankan secara tulus kegiatan – kegiatan yang telah dijadwalkan oleh seminari .Saya berharap agar para remaja tidak lagi memandang jalan panggilan imamat itu aneh,tidak menarik,melainkan menjadi suatu jalan hidup menarik yang penuh pengorbanan bagi sesama .Agar barisan imam Gereja bertambah dan banyak yang menyampaikan misteri penyelamatan.

                   
    





0 komentar:

 
;