Tampilkan postingan dengan label Seminari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seminari. Tampilkan semua postingan
Selasa, 11 Februari 2014 0 komentar

Pertemuan Pengembangan Panggilan SWB

Pertemuan Pengembangan Panggilan SWB
Dalam rangka pengembangan panggilan seminaris, staff  Seminari Menengah Wacana Bhakti mengundang orang tua beserta seminaris dalam pertemuan pengembangan panggilan, Minggu, 9/2, di Aula Seminari Wacana Bhakti, Pejaten Barat.
Pertemuan ini bertujuan untuk menjelaskan kepada orang tua seminaris mengenai pengembangan panggilan seminaris. Pertemuan pengembangan panggilan dipimpin oleh RP. Thomas Salimun Sarjumunarsa, SJ, Rektor Seminari Wacana Bhakti, bersama RD. Charles Agustino C. J., Pamong Umum. RP. Sarju, SJ, menjelaskan bahwa selama di Seminari Menengah Wacana Bhakti, pengembangan panggilan seminaris dibina dalam 4 (empat) pilar pembina yaitu Tuhan, seminaris, orang tua, dan seminari. Para seminaris diharapkan untuk semakin menghidupi 4 pedoman hidup di seminari yaitu sanctitas, scientia, sanitas, dan societas.
Menurut RD. Charles, seminari sebagai tempat pendidikan calon imam diumpamakan sebagai mesin penggiling gabah yang akan menghasilkan beras yang bermutu baik bagi Gereja. RD. Charles menjelaskan bahwa tahun ajaran baru ini memiliki tujuan untuk pengembangan karakter yang khas sebagai calon imam yang bermutu, teguh sebagai harapan masa depan Gereja. RP. Sarju, SJ menambahkan bahwa diharapkan sifat dan karakter imam akan dimiliki oleh para seminaris selama menjalani masa formatio di seminari menengah. Pada pertemuan ini orang tua juga diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan sehubungan dengan pengembangan panggilan seminaris yang dibina oleh para staff seminari.

Carolus Budhi Prasetyo
Minggu, 24 November 2013 0 komentar

Seminari Menengah Wacana Bhakti - KAJ





Kamis, 07 November 2013 0 komentar

Semarak Gonzaga Day 2013

Dalam rangka merayakan ulang tahun yang ke- 26, Seminari Wacana Bhakti dan SMA Kolese Gonzaga mengadakan Gonzaga Day 2013, Minggu, 3/11, di Sport Hall SMA Kolese Gonzaga, Pejaten Barat.
Gonzaga Day tahun ini merupakan acara yang diadakan pertama kali dalam rangka ulang tahun Seminari Wacana Bhakti- SMA Kolese Gonzaga selain rangkaian acara Lustrum. Gonzaga Day 2013 mengambil tema “Kebangsaan”.

Acara ini diawali dengan misa konselebrasi yang dipimpin oleh selebran utama RP. Thomas Salimun Sarjumunarsa, SJ, Rektor Seminari Wacana Bhakti, dan para konselebran yaitu RP. Leonardus E. B. Winandoko, SJ, Kepala Sekolah SMA Kolese Gonzaga, RP. Antonius Vico, SJ, Moderator SMA Kolese Gonzaga, RP. Heru Hendarto, SJ, Kepala Sekolah SMA Kolese Kanisius, Menteng, RD. Charles Agustino C. J, Pamong Umum Seminari SWB, RD. A. Ary Dianto, Pamong ad extra SWB, dan RP. Adrian Adiredjo, OP, alumnus Seminari Wacana Bhakti- SMA Kolese Gonzaga.

Dalam homilinya, RP. Sarjumunarsa, SJ, menyampaikan agar para seminaris maupun para murid dapat menjadi pemimpin masa depan yang cerdas, jujur, rendah hati, dan kreatif. Sebelum berkat penutup, panitia memberikan penghargaan terhadap para guru maupun karyawan yang telah mengabdikan diri pada Yayasan Wacana Bhakti selama 25 tahun, 15 tahun dan 10 tahun.

Setelah misa syukur, para tamu yang hadir diajak untuk menyaksikan pentas drama kolaborasi yang terdiri dari pertunjukkan drama, tarian, permainan angkulung, permainan gitar, paduan suara, dan diiringi oleh orkestra Seminari Wacana Bhakti, Wacana Bhakti Symphony Orchestra (WBSO). Drama tersebut mengisahkan seorang kakek, veteran perang kemerdekaan RI, yang terus hidup sampai zaman sekarang. Perjuangan, dan penghargaan atas makna kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan merupakan nilai- nilai yang ingin disampaikan Ireneus Mario, sutradara sekaligus siswa SMA Kolese Gonzaga, dalam drama ini.

Akhirnya, rangkaian acara Gonzaga Day 2013 diakhiri dengan menyanyikan lagu Mars Seminari Wacana Bhakti dan SMA Kolese Gonzaga.

“ Sungguh acara yang menarik, namun sebagai seminaris saya merasa wujud syukur atas berdirinya seminari ini kurang mendapatkan apresiasi“, tutur Henrikus Prasojo, Bidel Umum Seminari Wacana Bhakti, saat diwawancarai setelah acara Gonzaga Day 2013 usai.


Carolus Budhi Prasetyo
Kamis, 29 Agustus 2013 0 komentar

Review Buku "The Catholic Way- Mgr. Ignatius Suharyo"

Gereja adalah Komunitas Pengharapan

Dari awal penciptaan, manusia menyadari atas kekuatan di luar dirinya yang melampaui kemampuannya dan mempengaruhi kehidupannya. Kesadran tersebut mengalami perkembangan berabad- abad sehingga manusia mencapai kesimpulan bahwa terdapat realitas tertinggi yang berkuasa atas segala sesuatu di dunia yang sering disebut sebagai Tuhan, Allah, God, Deus, Theos, dsb.
Agama pun terus berkembang melintasi dimensi ruang dan waktu beriringan dengan manusia. Agama saling bersentuhan dan berdialog dalam kehidupan sehari- hari manusia, persoalan kemanusiaan dan kebangsaan, mulai dari masalah ekonomi, sosial, lingkungan hidup, kesehatan, kejahatan, perang, hingga kesejahteraan. Agama pun hadir secara ‘merakyat’ melalui para pemuka agama. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam masyarakat paternalistik, segala pencerahan dan arahan umat dewasa ini berasal dari para pemimpin agama.
Berangkat dari pemikiran tersebut buku The Catholic Way: Kekatolikan dan Keindonesiaan Kita diterbitkan dan diharapkan menjadi arahan bagi umat Katolik untuk menjalani hidup masa kini berpijak pada pendapat, pandangan, sikap, dan pemikiran Gereja Katolik. Maka dipilihlah Mgr. Ignatius Suharyo yang pada masa tersebut menjabat sebagai Uskup di Keuskupan Agung Semarang. Beliau konsisten memberikan sumbangan pemikiran dan perhatian terhadap berbagai persoalan kemanusiaan dan kebangsaan.
Pada umumnya umat Katolik belum memahami secara mendalam mengenai keyakinan pada Allah Tritunggal, inti ajaran Gereja Katolik, Gereja dengan sifat- sifatnya, Kitab Suci, dosa, dan penghormatan terhadap Orang Kudus. Mgr. Suharyo menjelaskan bahwa segala pembicaraan mengenai imam akan mengandung ketidakjelasan. Banyak buku yang membahas Tritunggal Yang Mahakudus namun tidak pernah dijelaskan secara tuntas karena berhadapan dengan Tritunggal Yang Mahakudus berarti berhadapan dengan rahasia karya penyelamatan Allah. Sumber KS pun memberikan pernyataan mengenai pendamaian dunia melalui Kristus dan kasih- Nya dicurahkan dalam Roh Kudus. Pokok iman akan Allah Tritunggal Yang Mahakudus adalah Allah Bapa yang menyelamatkan manusia dalam Kristus oleh Roh Kudus.
Bahwa ajaran Katolik- iman, kesusilaan, dan institusinya- merupakan buah dari pekembangan wahyu yang termuat dalam KS dalam bimbingan Roh Kudus berupa Tradisi dan Wewenang Mengajar Gereja (Magisterium). Lalu, sifat Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik bukanlah sifat yang sudah “jadi”. Namun, sifat- sifat Gereja inilah bersifat dinami, artinya diharpkan selalu berkembang menuju ksempurnaannya. Dosa dapat didefinisikan sebagai segala tindakan melawan Allah. Namun manusi atidak pernah putus asa karena dosa- dosanya karena yakin akan karya penyelamatan- Nya. Maka, dibutuhkan suatu pertobatan dalam diri manusia untuk memperoleh pengampunan dan pendamaian dari Alah melalui Sakramen Tobat.

Dalam hubungannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, KWI memberikan beberap aetika politik yaitu hormat terhadap martabat manusia, kebebasan, keadilan, solidaritas, subsidiaritas, fairness, demokrasi, dan tanggung jawab. Politik Katolik adalah perjuangan bagi kesejahteraan bersama, bonum commune. Itulah visi dasar yang harus dipegang teguh bagi setiap umat Katolik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam hubungannya dengan agama lain, sejak Konsili Vatikan II terlihat bahwa Gereja Katolik membuka diri sepenuhnya terhadap pluralisme dan multikulturalisme karena Gereja meyakini hanya dengan memberikan penghormatan satu sama lain maka kebaikan bersama akan dapat diwujudkan.
Dalam menyikapi globalisasi bagi kita orang Katolik, globalisasi itu bukan baik atau buruk. Melainkan apakah kinerja globalisasi mewujudkan kesejahteraan bersama atau tidak. Bila tidak maka kit aharus menemukan dengan cerdik apa yang menyebabkan malapetaka itu. Salah satu pesan Paus Yohanes Paulus II pada hari Perdamaian Sedunia tahun 1998, tepatnya 1 Januari 1998. Beliau menyampaikan pesan yang sangat kaya makna dan perlu ditafsirkan dan dijabarkan. Beliau mengatakan menolak globalisasi yang meminggirkan, tetapi ingin membangun globalisasi solidaritas. Globalisasi meminggirkan itu tidak dikehendaki oleh Gereja. Globalisasi solidaritas berlandaskan iman bahwa Allah itu Bapa semua orang, semua orang dicintai oleh Bapa dengan kasih yang sama. Karena Allahnya satu, Bapanysa satu, maka diharapkan semua orang menjadi saudara.
Pada bagian akhir, Mgr. Suharyo menjawab  suatu pertanyaan sikap apa yang diharapkan dari orang Kristiani, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga Gereja yang berhadapandengan kenyataan dunia dewasa ini.
Seharusnya seorang beriman tetap teguh dalam pengharapan Dengan landasan pengharapan ini, orang beriman, baik sendiri- sendiri maupun sebagai warga Gereja bisa melibatkan diri untuk terus berjuang membangun kehidupan yang lebih baik. Harapan tidak sama dengan optimisme. Optimisme bisa dengan mudah hilang kalau perhitungan- perhitungan yang melandasi optimisme itu salah.Harapan tidak pernah akan hilang karenadilandaskan pada janji Allah sendiri, yaitu bahwa Ia yang telah memluai kaya yang baik ini akan menyelesaikannya juga (bdk. Flp 1:6). Dengan landasan itu, kita bisa bekerja keras tanpa putus asa.





0 komentar

Refleksi Misa Tahbisan Imam 2013

“ Melayani Dengan Gembira dan Tulus Hati ( Kis 2: 46)”
 (Sebuah Refleksi Mengikuti Tahbisan Imam)
Oleh: Carolus Budhi Prasetyo, III/07
Misa pentahbisan selalu ditunggu oleh umat karena membuka harapan baru bagi umat mengenai para gembalanya. Bersama para umat yang terus menerus berdoa bagi panggilan calon imam, Allah menghadirkan rahmat- Nya sebagai wujud cinta kepada umat- Nya yaitu melalui upacara pentahbisan. Pada hari Kamis, 22/8, diadakan upaca pentahbisan 9 imam yang terdiri dari 8 imam diosesan dan satu imam tarekat CICM di Gereja St. Arnoldus Janssen, Bekasi. Kami, komunitas Seminari Menengah Wacana Bhakti, ikut ambil bagian dalam misa pentahbisan menjadi umat yang mendoakan.
Adapun para tertahbis mengambil tema “ Melayani Dengan Gembira dan Tulus Hati ( Kis 2: 46)”. Terdapat empat orang lulusan Wacana Bhakti diantara para tertahbis yaitu RD. Alberus Yogo Prasetianto, RD. Rafael Yohanes Kristianto, RD. Reynaldo Antoni Haryanto, dan RD. Yohanes Angga Sri Prasetyo. Terdapat tiga orang tahbisan yang pernah berkarya di Wacana Bhati yaitu RD. Antonius Yakin Ciptamulya, RD. Paulus Dwi Hardianto, dan RD. Antonius Prmanono Wahyu Nugroho. Misa tahbisan dipimpin oleh Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo, RD. Tunjung Kesuma- Rektor SeminariTinggi Yohanes Paulus II KAJ, RP. Kaitanus Saleky, CICM- Superior Distrik CICM Indonesia- Singapura, RD. Yohanes Subagyo- Vikaris Jendral  KAJ, RD. Hadi Sulistyo- Ketua UNIO KAJ, RP. Yakobus Rudiyanto, SJ- Pastor Dekenat Bekasi, dan RP. Anselmus Selvus, SVD- Pastor Kepala Paroki St. Arnoldus Janssen.
Selama perjalanan perasaan yang muncul adalah perasaan bingung karena saya baru saja pulang dari sekolah dengan penuh beban tugas dan ulangan dan besok akan menghadapi ulangan yang sulit. Perjalanan ke gereja menghabiskan waktu satu jam sehingga saat sampai di sana saya merasa agak capek dan letih. Di depan gereja saya bertemu dengan Br. Ignatius Ulrig, SJ.
Selama perayaan ekaristi saya agak terganggu dengan sound system dan lampu yang kurang bagus. Namun secara keseluruhan yang saya rasakan adalah haru, bangga, ada perasaan tertantang, dan bahagia. Mengapa haru? Karena dengan ditahbiskannya 9 imam saya merasakan Kasih Allah di tengah manusia dengan memanggil para pekerja- Nya. Bangga pastinya karena 4 imam tertahbis merupakan lulusan Seminari Menengah Wacana Bhakti. Ada perasaan tertantang untuk melanjutkan masa formatio di Seminari Tinggi Yohanes Paulus II KAJ dan apabila Allah berkenan ikut ditahbiskan. Saya merasa bahagia karena mendapatkan banyak dukungan untuk melanjutkan masa formatio di Diosesan KAJ dari RD. Vincentius Adi Prasojo, RD. Yustinus Kesaryanto,  RD. Yohanes Angga Sri Prasetyo, RD. Antonius Yakin Ciptamulya, dan RD. Antonius Prmanono Wahyu Nugroho.
Saya pun merasa senang dapat bertemu dengan teman orang tua saya yaitu RP. Ignatius Sudaryanto, CICM- mantan Rektor Skolastikat Tunas Verbist. Perjumpaan dengan beliau sungguh menyenangkan dan menguatkan karena beliaulah yang menjadi salah satu imam teladan saya. Beliau pun mendukung saya untuk menjadi imam diosesan walalu dulu dia berharap saya menjadi imam misionaris sepertinya.
Nilai yang saya dapatkan dari pengalaman ini adalah kesetiaan, kerendahan hati, kepasrahan, dan pengorbanan. Tanpa ada kesetiaan para tertahbis dan yang menahbiskan tidak akan menjadi pekerja- Nya karena panggilan imamat menuntut adanya kesetiaan yang mendalam karena harus mengarahkan hati secara utuh kepada Allah. Kerendahan hati harus dimiliki oleh para terpanggil karena selama masa formatio para terpanggil akan dipimpin dibawah para formator agar sampai kepada pembentukan panggilan yang murni. Mereka yang menjalankan masa formatio pun harus rendah hati karena di dalam kerendahan hati dapat mendengarkan kehendak Allah apakah ini memang jalan panggilannya atau bukan.
Kepasrahan, para terpanggil yang berpasrah kepada kehendak Allah pasti akan menjalankan masa formatio maupun masa pelayanannya dengan penuh suka cita. Pengorbanan, karena menjadi imam begitu banyak yang harus dikorbankan. Bayangan akan tahbisan ada di dalam pikiran saya dan saya merasa agak tidak pantas juga karena sebagai manusia saya begitu berdosa. Namun biarlah itu menjadi rahasia Ilahi. Kalau di kemudian hari saya ditahbiskan saya berkeinginan untuk ditahbsikan di Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda, Tangerang- yang merupakan paroki asal saya.
Saya merasakan kehadiran Allah melalui pengalaman pertemuan dengan para imam yang mendukung saya dalam panggilan. Saya merasakan pertemuan dengan Allah Yang Memanggil, dan Menguatkan. Makna keseluruhan pengalaman saya sebagai calon imam adalah semakin mendorong saya untuk melanjtukan masa formatio di seminari tinggi dan apabila Allah berkenan maka saya akan ditahbiskan. Sebagai calon imam saya ingin mengembangkan kemampuan saya dalam mempelajari dokumen Gereja, pelayanan kepada orang yang tersingkir dan menderita serta secara utuh memberikan diri saya kepada keuskupan.






0 komentar

Refleksi Perayaan HUT RI ke- 68 Seminari Wacana Bhakti

100 % Seminaris dan 100% Indonesia
(Sebuah Refleksi dalam Mengisi Kemerdekaan)
Oleh: Carolus Budhi Prasetyo

Perayaan HUT Republik Indonesia ke- 68 dirayakan dengan penuh gegap gempita di seluruh pelosok tanah air. Tidak ketinggalan, para seminaris Wacana Bhakti pun mengisi perayaan HUT RI dengan mengadakan acara komunitas. Acara komunitas ini dikoordinasi oleh Ofisi Seminari. Acara 17- an ini dilaksanakan selama dua hari yaitu Jumat- Sabtu, 16/8- 17/8. Pada Jumat sore kami melaksanakan perlombaan dijiwai semangat kemerdekaan dengan diawali upacara pembukaan oleh Pras, Bidel Umum.
Lomba- lomba yang diadakan yaitu estafet sarung, joget balon, eatbulaga, panko mata, dan tarik tambang. Pada awal perlombaan pun kami dituntut untuk kreatif dengan mengirimkan de ville setiap angkatan dengan kostum dan gaya yang unik. Pada hari Sabtu kami menutup rangkaian acara dengan pesta makan malam komunitas.
Selama menjalani rangkaian perayaan HUT RI ini saya merasakan senang sekaligus haru. Mengapa saya dapat merasa senang karena selama menjalani rangkaian acara kami semua menjalankannya dengan penuh semangat yang membara, semangat berkompetisi, dan semangat melebur menjadi komunitas yang solid. Haru karena rasa nasionalisme yang selama ini tidak berkobar- kobar kembali berkobar apalagi setelah kembali mengenang jasa- jasa para pahlawan. Hal yang begitu mengharukan adalah saat kami bersama- sama menyanyikan lagu kebangsaan yaitu “ Indonesia Raya” setelah perayaan ekaristi pada hari Sabtu.
Sesuai dengan judul refleksi saya “100% Seminaris dan 100% Indonesia” ada beberapa nilai yang saya dapatkan yang berguna bagi kehidupan saya sebagai seminaris dan warga negara. Nilai cinta tanah air menjadi nilai yang sangat terasa dalam merayakan HUT RI ini. Cinta tanah air memang tidak mudah dijalani dalam kehidupan sehari- hari namun sangat penting bagi kita utnuk menanamkannya dalam diri. Kita harus cinta tanah air karena di sinilah kita mengukir sejarah hidup kita.
Kita harus membalas segala jasa para pahlawan yang telah membantu memerdekakan Indonesia karena tanpa mereka mungkin sampai sekarang kita masih menjadi bangsa yang terjajah.
Persatuan, melalui perlombaan- perlombaan yang ada saya memaknai tujuannya yaitu untuk mempersatukan semua orang. Semangat perstuan dalam perlombaan tersebut untuk menyadarkan kita bahwa dalam memerdekakan bangsa Indonesia tidak akan berhasil bila berusaha sendirian melainkan harus bersatu padu untuk merdeka. Setelah kita bersatu maka kita membutuhkan semangat untuk bekerja sama. Dalam bekerja sama dibutuhkan keselarasan dna kesatuan niat dan tujuan yang jelas seperti dalam permainan tarik tambang. Dengan bekerja sama maka permasalahan yang besar dapat ditangani bersama.
Apabila dikaitkan dengan 4 pilar seminari, dalam menjalaninya saya merasakan kedalaman dan penghayatan yang cukup baik. Saya pun semakin diingatkan mengenai nilai sejarah dan nilai moral yang didapatkan dari berbagai perlombaan. Perlombaan yang ada membantu kita untuk semakin sehat karena terdapat unsur olah raga. Dalam hidup berkomunitas kita pun dituntut untuk dapat bersatu, bekerja sama, dan berkreasi- berinovasi.
Selama merayakan HUT RI saya  diingatkan akan Penyelenggaran Allah dalam kemerdekaan Indonesia. Tanpa penyelenggaraan- Nya maka para pahlawan tidak akan berhasil memerdekakan bangsa ini. Karena berkat dan perlindungan Allah, para pahlawan dihindarkan dari mara bahaya dan semakin diarahkan kepada tujuan yang mulia yaitu bebas dari penjajahan. Saya merasa Indonesia yang dapat mencapai umur 68 tahun merupakan bentuk kasih dari Allah karena Indonesia terus diberi kesempatan untuk berkembang dan bertobat dari segala kelaliman dan ketidak adilan di seluruh Indonesia.
Ada dorongan bagi saya untuk terus mengisi kemerdekaan Indonesia dengan mencerdaskan bangsa Indonesia. Saya yakin dengan mencerdaskan bangsa Indonesia maka seluruh rakyat dapat merasakan kemerdekaan, kesejahteraan, dan keadilan. Sehingga tidak ada lagi orang- orang yang merasakan ketidak adilan.
Sebagai calon imam, makna keseluruhan dari kegiatan ini adalah bahwa kita disadarkan untuk juga berbakti terhadap negara dan menjalankan apa yang menjadi kewajiban kita sebagai warga negara. Kegiatan ini memantapkan panggilan saya karena salah satu tugas imam adalah melayani agar semua manusia dapat merasakan kasih Allah dan memerdekakan dari segala bentuk penjajahan. Yang ingin saya kembangkan sebagai calon imam adalah semangat nasionalisme seperti Mgr. Soegija.






Rabu, 12 Juni 2013 0 komentar

John Paul II Cup


Pagi yang cerah pada hari Minggu, 9/6, telah membakar semangat 900- an misdinar untuk mengikuti perlombaan misdinar Keuskupan Agung Jakarta di Seminari Menengah Wacana Bhakti, Jakarta.

Lomba misdinar tersebut dikemas dalam John Paul II Cup 2013. Lomba ini merupakan lomba yang pertama kali diadakan bagi para misdinar se-KAJ atas kerjasama dengan Seminari Tinggi Yohanes Paulus II, Seminari Menengah Wacana Bhakti, dan UNIO KAJ. JPII Cup ini diketuai oleh Fr. Diakon Angga Sri Prasetyo. JPII Cup 2013 mengambil tema “ Menjadi Imam Siapa Takut?”. Frater Pius Novrin dan Frater Andreas Subekti memandu acara ini. Para misdinar dengan tingkat umur SD s.d. SMP yang terlibat berasal dari 27 paroki di KAJ.

Setelah ice-breaking dan pengenalan theme song JPII Cup, RP. Thomas Salimun Sarjumunarsa, SJ dan Fr. Diakon Angga Sri Prasetyo memberikan sambutan lalu perlombaan dimulai. John Paul II Cup memiliki 7 jenis lomba yaitu Free Throw, Free Kick, Cooking Adventure, Misdinar Pintar, Mo’cil (Romo Cilik), Tata Gerak Liturgi, dan MMB ( Misdinar Mencari Bakat). Tujuan  John Paul II Cup menjadi ajang kreatifitas dan persahabatan antar misdinar se-KAJ dan mengenalkan panggilan hidup menjadi imam.

Setelah perlombaan selesai dilaksanakan, para misdinar berkumpul di Aula Seminari Wacana Bhakti untuk mengikuti talk show bersama RD. Bambang Wiryo, RD. Charles Agustino, dan RD. Yustinus Ardianto. Talk Show membicarakan mengenai misdinar yang baik dan pengalaman terpanggil menjadi imam oleh para narasumber.

John Paul II Cup ditutup dengan misa akbar yang dipimpin oleh Mgr. Ignatius Suharyo bersama para imam  paroki, seminari tinggi, seminari menengah, dan Komisi  KAJ.

Sebelum berkat penutup diadakan penyerahan piala dan medali bagi para pemenang. Misdinar dari Paroki Bunda Teresa, Cikarang keluar sebagai Juara Umum I dan berhak membawa Piala Bergilir John Paul II Cup.

         RP. Thomas Salimun Sarjumunarsa, SJ sedang memberikan sambutan dalam John Paul II Cup 2013 di Aula Seminari WB.

         Panitia sedang memberikan pengarahan free kick di lapangan mini soccer seminari.

         Talk show dalam John Paul II Cup 2013 di Aula Seminari WB (ki- ka: RD. Bambang Wiryo, RD. Charles Agustino, Aris (seminaris), RD. Yustinus Ardianto).

         Tim MMB (Misdinar Mencari Bakat) dari Paroki Santo Matias, Kosambi.

Carolus Budhi Prasetyo.  


Selasa, 26 Maret 2013 0 komentar

Refleksi Live- In 2013


Belajar Arti Hidup dari Sebuah Kederhanaan Pedesaan
(Refleksi Live- in 2013 di Baturetno, Wonogiri)

Kehidupan remaja di Jakarta semakin individualis dan tidak memiliki kepekaan dengan sesamanya. Setiap kolese menanamkan nilai compassion yang merupakan perwujudan nilai- nilai untuk mengasah kepekaan para murid. Sebagai wujud menjalankan nilai compassion, Kolese Gonzaga mengadakan kegiatan live- in bagi para murid kelas 11 setiap tahunnya. Oleh sebab itu, para murid Kolese Gonzaga angkatan XXV mengikuti kegiatan live- in di Baturetno, Wonogiri, Minggu s.d. Jumat, 10/3- 15/3- 2013.
            Para murid dibagi ke dalam 5 lingkungan yaitu Ngawu, Boto, Kedung Ombo, Sendangrejo, dan Duren. Para seminaris Wacana Bhakti angkatan XXIV pada tahun ini mengikuti live- in menempati lingkungan Duren. Lingkungan Duren yang ditempati para seminaris pun dibagi menjadi Dusun Pringjowo dan Dusun Duren Kidul.
            Para penduduk Desa Duren bermatapencaharian sebagai petani sawah tadah hujan, buruh, wiraswasta, dan guru. Namun yang pekerjaan yang paling dominan adalah petani. Mayoritas penduduk telah berumur di atas 50 tahunan dengan anak- anaknya yang merantau ke kota- kota besar setelah menyelesaikan pendidikan di jenjang SMA. Adapun para penduduk tersebut merawat pula cucu- cucu mereka. Sebagian besar mereka yang menitipkan anak- anak mereka kepada orang tuanya bekerja sebagai buruh maupun guru di daerah Jakarta, Bekasi, Tangerang, Serang, maupun kota- kota besar lainnya di Jawa Tengah.
            Setelah mengikuti briefing dari guru pendamping, saya dan teman- teman seminaris diberangkatkan menuju desa Duren. Selama perjalanan pun saya merasa deg- degan karena ini adalah kali pertamanya saya menjalankan live- in. Saya takut kalau keluarga angkat saya nantinya adalah keluarga yang mapan dan saya tidak akan mendapatkan nilai- nilai kerja keras seperti yang didengung- dengungkan banyak orang selama ini. Terlebih saya mendengar banyak cerita dari kakak kelas saya. Walau berbeda dengan live- in yang dialami angkatan XXII Wacana Bhakti, namun saya masih merasa tertantang untuk menjalankan live- in.
            Saat teman saya, Donmas, turun untuk pertama kalinya saya merasa terkejut karena begitu cepat kami akan dipisahkan. Lalu saat mobil yang mengantar kami kembali berhetni ternyata saya dan Endjiang harus berpisah dengan teman- teman yang lain. Dengan diantarkan oleh Pak Katijo, kami pun sampai ke rumah Bp. Paulus Tumino. Kami pun bertemu dengan Bu Sutini, isteri Bp. Paulus Tumino. Awal kegiatan live- in pun dimulai.
            Bapak Tumino, 58, adalah pensiunan PT. KAI dan memiliki isteri yaitu Bu Sutini, 49, yang berprofesi sebagai petani. Beliau memiliki 2 anak yaitu Mas Ary, 30, yang sekarang bekerja di Solo sebagai pegawai PT. KAI dan Mbak Purwati, 23, yang bekerja di Bogor sebagai karyawan konveksi. Sejenak saya pun merasa senang karena mendapatkan sambutan yang hangat dari keluarga. Keluarga ini sangat ramah sekali dengan kami bahkan cenderung memanjakan kami. Situasi ekonomi keluarga dapat dibilang mampu dan keluarga ini cukup terpandang.
            Bapak Tumino pun mengisi hari tuanya dengan bertani dan berladang. Ia rutin pergi ke sawah pada pukul 06.00 dan baru pulang pukul 16.00. Selama live- in pun saya dan Endjiang tidak diperbolehkan untuk ikut bekerja di sawah dan lading padahal kami sudah sangat antusias untuk terlibat dalam kegiatan bertani. Setelah saya refleksikan, ternyata alasan Bapak Tumino tidak memperbolehkan kami karena beliau telah memperkerjakan orang lain untuk menggarap lahannya yang baru saja panen.
            Secara lebih lanjut saya dan Endjiang pun membantu keluarga dengan mengoprek jagung dan memberi pakan ternak. Kami pun berusaha untuk terlibat dalam masyarakat. Kami berkunjung ke Dusun Duren Kidul untuk mengetahui masyarakat luas dan berniat membantu masyarakat.
            Dusun Duren Kidul dan Dusun Pringjowo terpisahkan jarak sejauh 500 meter dan saya setiap hari menempuhnya untuk sekedar melihat masyarakat, membantu teman, dan pergi ke Kapel Santa Maria. Selama kami live- in, kami pun mengikuti kegiatan lingkungan yaitu Novena Santo Yusuf. Kegiatan ini dilakukan di Kapel Santa Maria pada pukul 19.30 dan dibawakan dalam bahasa Jawa. Terbayang seberapa jauhnya utnuk menempuh perjalanan ke kapel dengan medan yang cukup jelek karena jalanan berbatu dan tidak terdapat penerangan yang memadai.
            Saya pun tidak terkendala dengan makanan karena makanan di sana lebih enak daripada di seminari. Namun, yang cukup saya kagumi adalah suasana kekeluargaan yang sangat dalam dan budaya toleransi yang baik. Hasil panenan dibagi- bagikan kepada keluarga lain yang membutuhkan baik itu padi, jagung, maupun sayur- mayor. Tidak ada harapan balas jasa karena semua saling mensyukuri dan mau saling berbagi .
            Bagaimana dengan nilai- nilai yang saya dapatkan selama live- in? Setelah merefleksikan lebih dalam pengalaman yang telah saya alami. Saya pun mengambil nilai perjuangan. Penduduk pedesaan dari sebuah kesederhanaannya dapat mengambil suatu sikap yang tulus yaitu perjuangan.
            Perjuangan yang saya maksud bukanlah perjuangan karena haknya dirampas orang lain. Perjuangan yang dimiliki oleh penduduk desa merupakan wujud imannya. Karena saya melihat dengan perjuangan yang dilakukan oleh penduduk desa, mereka dapat lebih menghargai dan mensyukuri berkat dari Gusti Allah dan mengimaninya bahwa setiap pemberiaan dari Allah adalah tanggung jawab dan bukan beban. Penduduk desa berusaha untuk merawat sawahnyadan terus berbagi dengan sesamanya.
            Penduduk desa pun berjuang untuk menyirami iman mereka dengan mengiktui kegiatan peribadatan maupun Ekaristi walau menempuh jarak 500 meter lebih. Dapat dilihat penduduk desa mau berjuang demi kehidupan religious mereka. Padahal jarak yang ditempuh tidak diimbangi dengan jalan yang mulus dan penerangan yang memadai. Saya pun melihat buah dari perjuangan mereka bahwa mereka semakin dikuatkan dalam iman dan tindakan mereka sehari – hari. Perjuang tersebut membuahkan nilai keramahan, kejujuran, kerja keras, toleransi, dan kekeluargaan.
            Sebagai siswa kolese saya pun dapat menilai makna compassion yaitu bagaimana seorang pribadi manusia menghayati hidupnya sehari- hari dengan penuh ketulusan hati dan kerja keras yang diimbangi dengan kepedulian dengan sesama dan lingkungan sekitar.
            Hal ini sangat baik untuk saya petik karena hal ini dapat memperkaya iman saya dan menguatkan saya kelak untuk menjadi imam nanti, bahwa dalam hidup mengikuti Yesus selalu saja ada perjuangan untuk mencapai kebahagiaan dengan memuji, menghormati, dan mengabdi kepada Allah Tuhan kita.


Kamis, 13 Desember 2012 0 komentar

Promosi Panggilan


Saya sebagai seminaris dari Seminari Wacana Bhakti milik Keuskupan Agung Jakarta boleh lah share tentang seminari tempat gue hidup sekarang.
Pertimbangkan nilai- nilai unggul seminari ini:
a. Pilar hidup 4S dan satu- satunya di Jawa yaitu sanctitas (kesucian), scientia (pengethauan), sanitas (kesehatan), dan societas (komunitas). Societas hanya ada di WB dan menandakan bahwa di seminari ini diajarkan untuk menjadi komunitas yang baik dan akrab sehingga terasa kekeluargaan.

b. Berada di Jakarta dengan kemajemukannya. Menurut gue dan banyak orang, menjalani panggilan di Jakarta lebih menantang dan memurnikan daripada di seminari lain yang nota bene di kota kecil atau desa. Kami dapat melihat realitas umat secara nyata. Hidup sederhana kami disadari kesad
aran tulus bukan dari paksaan situasi dan kondisi.


c. Sekolah bersama siswa- siswi umum di Kolese Gonzaga secara 100%. Sehingga terbiasa berelasi dengan kaum awam terutama dengan wanita sehingga tidak canggung dalam pergaulan. Faktanya, anak WB lebih mudah bergaul daripada seminari lain.



d. Kemajemukan suku dalam komunitas kami yang menempa kemampuan kami untuk slaing beradaptasi, menghargai dan menjalin persahabatan.



e. Dalam mengolah panggilan dibutuhkan keekaan maka di sini kami juga belajar musik dalam orkestra. Untuk menselaraskan hati dan pikiran kami sehingga menjadi alunan yang harmonis.



Kalau tertarik dapat menghubungi WB, Pastor Paroki, atau bertanya melalui gue.
Sebagai salah satu anggota PATAR (Ang. 2005) dan seminaris dari Seminari Wacana Bhakti milik Keuskupan Agung Jakarta boleh lah share tentang seminari tempat gue hidup sekarang.
Pertimbangkan nilai- nilai unggul seminari ini:
a. Pilar hidup 4S dan satu- satunya di Jawa yaitu sanctitas (kesucian), scientia (pengethauan), sanitas  (kesehatan), dan societas (komunitas). Societas hanya ada di WB dan menandakan bahwa di seminari ini diajarkan untuk menjadi komunitas yang baik dan akrab sehingga terasa kekeluargaan.

b. Berada di Jakarta dengan kemajemukannya. Menurut gue dan banyak orang, menjalani panggilan di Jakarta lebih menantang dan memurnikan daripada di seminari lain yang nota bene di kota kecil atau desa. Kami dapat melihat realitas umat secara nyata. Hidup sederhana kami disadari kesadaran tulus bukan dari paksaan situasi dan kondisi.

c. Sekolah bersama siswa- siswi umum di Kolese Gonzaga secara 100%. Sehingga terbiasa berelasi dengan kaum awam terutama dengan wanita sehingga tidak canggung dalam pergaulan. Faktanya, anak WB lebih mudah bergaul daripada seminari lain.

d. Kemajemukan suku dalam komunitas kami yang menempa kemampuan kami untuk slaing beradaptasi, menghargai dan menjalin persahabatan.

e. Dalam mengolah panggilan dibutuhkan keekaan maka di sini kami juga belajar musik dalam orkestra. Untuk menselaraskan hati dan pikiran kami sehingga menjadi alunan yang harmonis.

Kalau tertarik dapat menghubungi WB, Pastor Paroki, atau bertanya melalui gue.
Minggu, 16 September 2012 0 komentar

Perjuangan Berat Menuju Sekolah


Perjuangan Berat Menuju Sekolah

Pergi ke sekolah? Mungkin itu adalah ide yang tidak terlalu menarik untuk dibaca. Namun, saat kita membahas para seminaris ( Seminari Wacana Bhakti) agar sampa ke sekolah pasti sebuah ide cemerlang.
Bagi siswa- siswi SMA pada umumnya  dapat sampai ke sekolah masing- masing dengan menggunakan kendaran pribadi, mobil antar- jemput, bahkan transportasi umum. Tetapi para seminaris yang belajar kesederhanaan ridak membutuhkan itu semua. Sebenarnya bukan karena nilai kesederhaan yang dipakai sebagai alasan. Tapi, seminari itu berjarak sekitar 50 meter dari SMA Kolese Gonzaga ( tempat para seminaris Seminari Wacana Bhakti bersekolah) sehingga hanya bermodalkan sepasang kaki lengkap bersma alas kakinya dan menyisihkan waktu 2 menit s.d. 3 menit waktu perjalanan.
Para seminaris akan mengawali perjalanan mereka dengan merapihkan buku, penampilan, bahkan mandi terlebih dahulu karena telat bangun pagi. Di depan unit masing- masing para seminaris akan berdoa bersama. Mungkin, para seminaris yang telah diresapi oleh dasar kekeluargaan yang tinggi maka para seminaris akan menunggu sampai para seminaris lengkap semua.
Seperti biasa pada pukul 06. 55 atau 5 menit sebelum bel masuk dan pelajaran pertama dimulai berbunyi, barulah kami berdoa, Karena jarak yang sangat dekat maka kami sering terlena dan terakdang pintu gerbang di samping telah dikunci. Kami pun harus melewati ruang moderator dan beradu argumentasi di saat ketahuan moderator. Tidak jarang kami berbohong, bahwa kami baru saja dari kamar mandi, sakit perut, atau merawat teman yang sakit.
Inilah kenyataanyang ada kala para seminari akan berangkat ke sekolah. Itu kebanggan saat peraturan menyiksa saya namun tetap dapat memahaminya. Semoga semakin berani untuk berjalan kaki!

*) Tulisan ini dibuat pada Minggu, 9 September 2012 untuk memenuhi tugas jurnalistik dari Mbak Ninu dan Kak Astri.
Minggu, 06 Mei 2012 2 komentar

Farewell Party Wacana Bhakti


Farewell Party Wacana Bhakti
Sekitar 150 anggota keluarga seminaris Seminari Wacana Bhakti hadir dalam acara Farewell Party 2012, seminaris kelas 3 angkatan XXII dan KPA (Kelas Persiapan Atas) angkatan XXV. Acara Farewell Party diawali Perayaan Ekaristi di Kapel Seminari pada pukul 10.00, Minggu, 6/5. Misa dipimpin oleh selebran P. Thomas Salimun Sarjumunarsa, SJ, rektor seminari, didampingi P. Charles Agustino C. J, Pr, pamong umum seminari, dan P. Leonardus E. B.  Winandoko, SJ, direktur SMA Kolese Gonzaga.

Setelah perayaan ekaristi acara dilanjutkan di Aula Seminari. Acara dipandu oleh Kosmas Asri, seminaris kelas 2 dan Barry Ekaputra, seminaris kelas 2. Farewell Party tahun ini mengambil tema “ Rencana- Nya Jauh Lebih Baik”. Acara diisi dengan pentas seni dari setiap angkatan yang disambut snagat meriah dari para tamu. Seminaris KPP (Kelas Persiapan Pertama) menampilkan orkestra. Seminaris kelas 1 menampilkan orkestra dengan lagu- lagu yang diaransemen oleh Henrikus Prasojo, seminaris kelas 1, dan puisi berdendang. Seminaris kelas 2 menampilkan permainan angklung yang bernama Turkana Klung. Seminaris kelas 3 menampilkan band dengan lagu yang diciptakan bersama angkatannya dan diiringi orchestra seminaris kelas 1. Lalu seminaris kelas 3 memutarkan film dokumenter mengenai angkatannya.

Acara pun dilanjutkan dengan pengembalian seminaris yang telah lulus kepada keluarga. Rektor seminari bersama pamong umum seminari memberikan sertifikat seminari kepada delapan seminaris . Lalu para seminaris memperkenalkan diri kepada para tamu undangan yang hadir. Di antara kedelapan seminaris, 4 seminaris memilih melanjutkan ke Diosesan Keuskupan Agung Jakarta, 2 Seminaris memilih konggregasi imam C. I. C. M, Congregatio Immaculata Cordis Mariae, seorang seminaris memilih Ordo Pengkhotbah ( OP ) dan seorang seminaris memilih bergabung ke Serikat Jesus.

Farewell Party 2012 pun diakhiri dengan ucapan selamat dari para tamu undangan dan anggota komunitas dilanjutkan santap siang yang telah diawali dengan doa yang dipimpin oleh Fr. Bambang Adi Putranto.
Carolus Budhi Prasetyo

Selasa, 21 Februari 2012 0 komentar

Ekspo Panggilan Seminari di Sathora


Ekspo Panggilan Seminari di Sathora
Sekitar 50- an seminaris dari Seminari Wacana Bhakti,Jakarta melaksanakan Ekspo Panggilan Seminari bekerja sama dengan Sie. Panggilan Paroki St. Thomas Rasul di Gereja Santo Thomas Rasul, Bojong Indah, Jakarta Barat,  Sabtu- Minggu, 18/2- 19/2.

Perayaan Ekaristi menjadi semakin meriah dan khidmat karena diiringi harmoni melodi dari WBSO (Wacana Bhakti Symphony Orchestra), orkestra seminari sebagai salah satu pendidikan humaniora bersama Trio Musisi Indonesia, yang merupakan tutor WBSO yaitu, R. Tony Suwandi, Ireng Maulana, dan Didiek SSS.
Seminaris tidak hanya memainkan alat musik namun secara dekat berbagi pengalaman dengan para kaum muda di paroki. Setelah misa, 18/2, para seminaris melakukan gathering dengan OMK Sathora. Acara dipandu Barry Ekaputra, seminaris kelas I, bersama Anastasia Erika Winarto, OMK Sathora. Setelah ice breaking dilakukan pentas seni dan acara hiburan bagi peserta. Acara malam itu ditutup dengan doa yang dipimpin Pastor Silvesrter Hari Pamungkas, Pastor Rekan Paroki St. Thomas Rasul.

Tidak hanya itu, Minggu, 19/2, diadakan Temu Putra- Putri Altar Sathora dan Seminaris Seminari WB di Aula Lantai IV. Anthonino Marandrika Purna dan Oktavianus Wijaya, seminaris kelas II, memandu acara yang dimulai pukul 11.00 dan diakhiri pukul 14.00. Acara ini dihadiri sekitar 70- an anggota misdinar.

Setelah ice breaking, para peserta dibagi menjadi 12 kelompok untuk sharing panggilan, mengenalkan seminari dan bermain dalam permainan dinamika kelompok. Ofisi Seminari mempresentasikan Seminari WB kepada para misdinar dan dilanjutkan drama dari seminaris KPP (Kelas Persiapan Pertama).

Misa Konselebrasi dipimpin oleh pastor staff seminari bersama pastor Paroki St. Thomas Rasul, Bojong Indah. Tujuan Ekspo Panggilan ini untuk menumbuhkan benih- benih panggilan di paroki St. Thomas Rasul dan menjaring kaum muda yang merasa terpanggil menjadi imam untuk menanggapi panggilan di seminari menengah.

Carolus Budhi Prasetyo
 
;