Tampilkan postingan dengan label SWB #24. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SWB #24. Tampilkan semua postingan
Selasa, 15 Juli 2014 0 komentar

Bernard, Carol, dan Pedro: Trio Musketri - dari, oleh, dan untuk Keuskupan Agung Jakarta

Bernard, Carol, dan Pedro:
 Trio Musketri - dari, oleh, dan untuk Keuskupan Agung Jakarta
Oleh: Carolus Budhi Prasetyo

            Setelah boleh menuliskan sedikit pengalaman bersama Barry, Romy, dan Pras, pada akhirnya aku menulis untuk diriku bersama teman seperjalanan abadi sebagai calon imam Keuskupan Agung Jakarta yaitu Bernard Rahadian dan Paulus Pedro Sambikakki.

Bernard Rahadian
           

Awal perkenalanku dengan Bernard itu kurang baik. Mengapa? Karena aku melihat sosoknya sebagai sosok yang sombong, dan terkesan menggurui. Hal ini yang mengganjal hatiku untuk mau mengenal Bernard lebih dekat. Dan sampai sekarang pun, aku masih berusaha mengenal Bernard lebih dalam dan bertukar pikiran dengannya. Entah mengapa di antara angkatan kami, aku melihat Bernard itu sangat pasti akan menjadi imam tanpa cela sedikit pun. Dalam hal akademis dan wawasan Gereja, Bernard sangat up to date bagai ensiklopedia Gereja terlengkap abad ini.
            Seelah empat tahun bersama nyatanya aku boleh belajar dan kagum terhadap beberapa sikapnya. Pertama, ketekunan dalam hal refleksi dan membaca buku. Aku sangat kagum kepada Bernard karena mampu terus berefleksi di seminari dan mungkin tak pernah lupa utnuk menulis refleksi. Kedua, inisiatif dan tanggap. Bernard sangat tanggap saat kami membutuhkan bantuan dalam beberapa hal. Ia sangat sayang kepada kami dan berusaha mengembalikan kami ke jalan yang benar saat kami menikmati jalan kebandelan kami sebagai remaja.
Paulus Pedro Sambikakki
Pedro ini sejak awal perkenalan telah menampilkan wajah yang ceria dan bersemangat apalagi kalau diajak bermain sepak bola. Sebenarnya aku baru dapat mengenal Pedro di saat kelas 3 semester II karena kami sekamar. Kehebatan Pedro adalah kepekaan dalam menebak nada saat bermain musik. Kata Pedro hanya coba-coba dan ia mampu menebak nada dan bermain keyboard, piano, dan organ dengan sangat keren. Bahkan saat ia tidur pun ia dapat menebak ketepatan nada. Hal ini saya alami saat menemani Pedro yang sakit di vallet bersama Barry pada tahun 2012. Saat itu Pedro mengigau “ Mi...! Itu nadanya Mi! Kurang Tinggi!.
            Kehebatan Pedro adalah ia mampu mengatur kondisi tubuhnya, seketika dapat sakit dan demam saat badannya dipegang namun sorenya sudah berlari-lari untuk bermain bola di lapangan. Ia juga memiliki syndrome yaitu Thursday & Sosiology Syndrome. Pada saat kelas 1, Pedro seringkali tidak masuk pada hari Kamis karena ada pelajaran sosiologi Pak Dewa dan seperti biasa sorenya langsung sembuh dan dapat bermain bola.
            Walaupun Pedro sangat muda di angaktan kami namun ia tidak manja dan dapat berpikir dewasa. Pedro itu sangat santai sekali dalam menjalani hidupnya di semianri. Aku belajar untuk melihat positif dari segala hal di sekitar kita.
Carolus Budhi Prasetyo
            Aku adalah aku, sebagai pemilik blog ini dan kini menapaki jalan panggilan bersama kedua teman seperjalananku. Silakan mengenali dan menilai diriku....





Dan kini kami akan memulai menapaki jalan panggilan kami sebagai calon imam KAJ bersama 4 teman lain dari Semianri Menengah Petrus Kanisius, Mertoyudan. Kami mohon doanya agar kami dimantapkan dalam menjalani panggilan di tanah yang penuh tantangan ini. Secara umum, kami memilih Projo atau Diosesan KAJ karena kesadarn kami sebagai putera-putera KAJ yang peduli terhadap nasib KAJ yang membutuhkan tenaga imam yang mampu membaktikan diri pada Uskup dan umatnya.
Kami ini dari, oleh dan untuk KAJ...

Tangerang, 15 Juli 2014
Mulai TOR di Wisma Puruhita


            








Rabu, 02 Juli 2014 0 komentar

Romy Boy Rante Allo: Si Perantau Tana Toraja Dipanggil Menjadi “Mulut” Tuhan

Romy Boy Rante Allo: Si Perantau Tana Toraja Dipanggil
Menjadi  “Mulut” Tuhan
oleh: Carolus Budhi Prasetyo

Setelah Barry memulai proses formasinya menjadi jesuit di Girisonta, kini aku akan menceritakan temanku (Angkatan SWB #24), Romy Boy Rante Allo. Romy pada hari ini Selasa, 1 Juli 14, memulai proses pembinaannya menjadi aspiran Ordo Praedicatorum (bhs. Indonesia - Ordo Pengkhotbah) (OP) atau Ordo Dominikan di Rumah Fromasi Santo Thomas Aquinas,  Surabaya. Telah empat tahun boleh mengenal lebih dekat Romy walau tampaknya aku bukanlah teman terbaik di seminari. Berjuang bersama mendaki gunung dan pada satu titik kami berpisah satu sama lain dan percaya akan kembali di satukan di puncak kemuliaan Allah.
            Pada awal perkenalanku dengan Romy, aku memandangnya sebagai anak perantau asli yang datang ke Jakarta dan belum dapat berinteraksi dengan angkatan yang kebanyakan anak Jakarta! Menurutku Barry yang dengan cepat mendapat tempat di hati Romy. Aku pun pada awalnya bingung bagaimana untuk memulai karena Romy adalah tipe pendiam dan baru mau mudah diajak mengobrol apabila kita sudah mendapat kepercayaannya. Sebenarnya agak kasihan juga melihat Romy sempat menjadi bahan bercandaan Donmas karena  intonasi Romy yang khas.
            Tetapi di balik itu semua, sosok Romy telah menginspirasi dan memotivasi diriku selama di seminari. Romy adalah pribadi yang pendiam namun di balik diamnya itu ia memperhatikan sekitarnya dengan hatinya. Cukup reflektif dan mengejutkan saat membaca refleksinya. Cukup dalam! Ia tidak menggunakan bahasa yang sulit ditangkap pikiran awam dan jauh dari istilah-istilah yang tingi-tinggi. Sederhana tapi menggugah hati. Semangatnya untuk setia dan bertahan walau Romy sempat diragukan oleh beberapa pribadi karena nilai akademisnya di kelas KPP. Namun, ia telah membuktikan dan memberikan yang terbaik bahwa ia mampu bertahan sampai tuntas di seminari. Boleh jadi banyak di antara teman-teman angkatan menjadi teman belajar dari Romy, namun bagiku pribadi akulah yang banyak belajar dari Romy. Tidak banyak bicara namun banyak aksi, itulah yang aku suka dari Romy. Ia handal menulis cerpen dan telah dibuktikan cerpennya dapat menembus suatu majalah remaja, penerbit buku, dan mengkoordinir tulisan angkatan di KOMPAS MUDA. Oh begitu hebatnya Romy si Rantau Toraja. Dulu, aku sempat merencanakan mengajak angkatan menulis di KOMPAS MUDA, namun ide itu pun tersapu angin karena kesibukan akademisku.
            Predikat sebagai perantau itu, aku manfaatkan untuk banyak belajar dari Romy. Bayangkan terpisah dengan keluarga yang berbeda pulau, dan pulang hanya dua tahun sekali. Memang banyak juga perantau muda yang hijrah ke negeri orang nun jauh di sana untuk pendidikan dan masa depan mereka yang indah, namun itu semua berbeda dengan Romy karena Romy akan terus merantau demi mewartakan Kerajaan Allah dan keluarga akan ia tinggalkan. Dari Romy, aku mensyukuri keluargaku yang berada di Tangerang sehingga lebih mudah untuk melepas rindu dan kangen. Menurutku Romy memang tidak bertemu dengan fisik, namun segala kerinduannya itu ia bawa dalam doa. Mukanya yang lucu dan terkesan innocent terkadang membuat kami gemas dan cepat turun emosi kami saat memarahi Romy.
            Aku tidak mengetahui secara pasti mengapa Romy memilih OP. Aku menduga bahwa ada suatu ketertarikan terhadap spiritualitas St. Dominikus. Aku yakin Romy dapat bertahan dalam perantauannya demi dikenalnya Allah oleh dunia. Walau Romy itu pendiam tapi ia cepat beradaptasi dengan sekitarnya tanpa harus kehilangan jati dirinya. Sehingga aku yakin ia dapat menjadi “Mulut” atau pewarta Tuhan yang handal dan memiliki kedalaman rohani. Andai ia tidak dapat banyak berbicara melalui mulut, aku yakin Romy akan banyak berbicara melalui tulisannya.
            Selamat jalan Romy dan semoga semakin dimantapkan dan dipilih Tuhan menjadi pengkhotbah! Saling mendoakan agar kita berenama dapat dihimpun kembali dan memimpin misa bersama-sama. "Tetaplah teguh dalam cinta kasih dan kerendahan hati, dan jangan tinggalkan kemiskinan!"- St. Dominius
            Laudare, Bendicere, Praedicare!
Tangerang, 1 Juli 2014
 
Carolus Budhi Prasetyo
Saudara dalam Panggilan


          
Minggu, 22 Juni 2014 0 komentar

Alexander Barry Ekaputra: Anak Tunggal Tetapi Saudaranya Banyak

Alexander Barry Ekaputra:
Anak Tunggal Tetapi Saudaranya Banyak
Oleh: Carolus Budhi Prasetyo

            Barry adalah teman angkatanku (XXIV) di Seminari Menengah Wacana Bhakti. Empat tahun terakhir ini aku boleh mengenal, hidup, dan berjuang bersama dalam menanggapi panggilan Tuhan. Dan hari ini, Minggu, 22/6, dia akan memulai menapaki jalan panggilannya sebagai frater novisiat Serikat Jesus (SJ) di Girisonta, Jawa Tengah. Aku pun merefleksikan hidup bersama dengannya dan semakin tersadar atas kebenaran syair Kahlil Gibran bahwa kebaikan seorang teman bagai keindahan gunung yang semakian terpancar apabila kita lihat dari kejauhan.
             Pada masa awal perkenalan, aku pun tersadar bahwa Barry adalah seorang yang ceria dan bersemangat. Namun, tak jarang setelah bersama-sama hidup di seminari aku melihat Barry sangat bersemangat sekali untuk mengejek dan menyindir teman-temannya termasuk aku. Aku melihatnya sebagai dinamika persahabatan. Bercanda dengan dia terkadang membuat aku kesel tetapi aku tidak dapat membalas ejekannya karena ejekan itu benar adanya. Aku mengambil nilai baik dari setiap ejekan tersebut bahwa Barry sangat perhatian dengan teman-temannya.
            Bagi diriku, Barry adalah sosok yang paling rela berkorban dan tulus saat membantu temannya. Tidak pernah dia memperhitungkan untung-rugi saat berteman. Saat mendapatkan tugas dan kepercayaan, Barry selalu melaksanakannya dengan baik. Segala kebaikannya tersebut mulai aku sadari saat di kelas 2 seminari. Pada saat kelas 2, aku dan Barry menjadi teman sekamar bersama Donmas. Di dalam kamar tampaknya kami bertiga sangat akur dan akrab (bohong). Kenyataan yang ada bahwa kamar kami ini tidak selamanya harmonis. Hanya Barry yang dapat menjadi teman sharing dan bercanda saat ada waktu bersama di kamar. Tak jarang pula aku dimarahin Barry karena aku malas sekali disuruh mandi terlebih dahulu.
            Barry tidak sepenuhnya anak tunggal karena sejak di seminari aku melihat hubungannya Romy bagai hubungan kakak-adik. Entah siapa yang menjadi kakak atau adik, tetapi aku melihat Barry begitu dekat dengan Rom. Setiap waktu liburan datang, Romy selalu diajak menginap di rumahnya. Maklum, Romy adalah perantau asli Tanah Toraja, Sulawesi Selatan, ia sangat akrab dengan Barry dan keluarganya. Tak hanya Romy tetapi semua adik kelas bahkan kakak kelas dapat cepat akrab dengan Barry. Gaya tertawanya yang khas, ejekannya yang pedas, dan perhatiannya membuat kami tidak pernah bosan berteman dengannya.
            Aku sempat bingung dan kagum saat mengetahui bahwa Barry berniat melanjutkan panggilannya menjadi imam Serikat Jesus (SJ). Aku pun merasa kagum dengan pengorbanan orang tuanya yang merelakan anak semata wayangnya menjadi imam SJ. Barry sangat bersemangat sekaligus deg-degan menjelang hari jadinya menjadi seorang jesuit, itulah ungakapan hatinya yang boleh aku dengar saat menginap di rumahnya, 19/6-20/6. Seorang anak tunggal yang memilih SJ bagiku adalah sebuah tantangan yang berat karena Barry akan berpisah selama 2 tahun untuk memantapkan dan mengenal SJ dan selamanya mengabdikan diri dan menjadikan dirinya milik serikat. Apalagi di dalam angkatanku yang memilih menjadi SJ hanya Barry saja, sehingga nanti ia akan berjuang sendirian. Memang aku tidak pernah bertanya kepada Barry alalsan ia memilih SJ tetapi menurutku Barry memilih SJ karena sejak kecil dia merasakan kasih dan perhatian dari pastorparokinya yang juga pastor SJ. Dan selama di seminari, aku melihat Barry sering membaca buku spitualitas Ignatian atau semangat St. Ignatius Loyola, pendiri SJ, dan merasa cocok dengan spritualitasnya.
            Hari ini, Minggu, 22/6, Barry akan berpisah dengan keluarga dan teman-temannya untuk menjalani pendidikan dan resmi mendapat gelar Frater Novisiat. Dalam kurun waktu 2 tahun, kami semua yang mengenal dan dekat dengan Barry harus berpisah dan membiarkan Barry mengenal spritualitas dan serikatnya. Dua tahun yang akan datang apabila Tuhan mengizinkan, kami akan bertemu kembali di STF Driyarkara untuk menuntut ilmu sebagai frater filosofan. Tetapi aku semakin percaya bahwa dalam kurun waktu tersebut Barry akan menunjukkan bahwa ia adalah anak tunggal tetapi saudaranya banyak karena sikapnya terhadap sesama yang mampu mendekatkan hati setiap orang dan berteman dengannya.
            Selamat jalan Barry dan semoga Barry selalu bersemangat dan diteguhkan dalam menjalani masa novisiat di Girisonta! Kita saling mendoakan agar suatu hari nanti kita dapat berkumpul bersama sebagai imam bagi Tuhan dan sesama dan kelak bersama-sama Bernard, Pedro, Pras dan Romy memimpin misa perdana.
            A.M.D.G, Demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar!

Tangerang, 22 Juni 2014,
Hari Raya Tubuh dan Darah †

Carolus Budhi Prasetyo,

Saudara dalam panggilan













Sabtu, 01 September 2012 0 komentar

Fun Play From Dormitory


Lagu yang dibuat oleh Henrikus Prasojo, Seminaris XXIV SWB. Terinspirasi dari pengalaman kekeluargaan angkatan kami. Pertama kali dimainkan di Farewell Party XXII 2012. Selamat menikmati . . . CBP
0 komentar

Lilin Kecil #LADOSCO XXIV


LAgu yang diciptakan Alm. Chrisye ini diaransemen oleh Henrikus Prasojo, conductor WBSO 2012/2013 dan seminaris XXIV SWB dan dimainkan oleh seminaris XXIV saat Farewell Party XXII. Selamat Menikmati . . . CBP
0 komentar

Kau Sahabat #LADOSCO



Angkatan XXIV Seminari Wacana Bhakti berkolaborasi dengan angkatan angelusnya XXII dalam lagu ciptaan Robertus Adi Nugroho (XXII) dan Petrus Hepi Witono (XII) dan dimainkan saat Farewell Party XXII. Selamat menonton . . .
Selasa, 30 Agustus 2011 1 komentar

Me and 24# WB Family


Jumat, 22 April 2011 2 komentar

Kenangan Yang Tersimpan Dari Ret-ret Akhir Tahun Di Biara Santa Clara, SIndanglaya

 
;